Feeds:
Posts
Comments

 

Mainan adalah benda-benda yang dibuat main seperti boneka, kereta-keretaan, dan lainnya. Sedangkan kata permainan adalah pola tindakan bermain yang mengandung aturan tertentu, biasanya mengandung unsur kompetisi, kontes, atau pertandingan. Sudah barang tentu permainan itu membutuhkan alat-alat tertentu berupa benda yang disiapkan terlebih dahulu.

 

 Dalam mengembangkan mainan dna permainan khas Indonesia, diperlukan upaya menggali mainan atau permainan warisan budaya dari berbagai suku yang ada. Dalam suatu literatur, terdapat sejumah jenis permainan yang dikategorikan beberapa jenis. Misalnya ketahanan raga yang dicontohkan melalui “adu tubuh” atau menggunakan alat yang disiapkan, baik dari kayu, rotan, dan sebagainya.

 Kelompok permainan lain bersifat balapan dengan variasinya. Seperti menggunakan kaki, kaki plus alat tertentu (enggrang dan batok kelapa) atau bahkan yang menggunakan binatang atau suatu jenis “kendaraan”. Kita bisa lihat pada Karapan Sapi di Madura dan balapan berkuda di NTT.

 Selain itu, terdapat juga jenis sabung dan pertandingan dengan alat-alat yang dapat digunakan berupa bola, galah, batu, dna lainnya. Sejumlah permainan tersebut sering pula digolongkan jenis olah raga tradisional.

 Sepak takraw misalnya yang kini sudah diangkat menjadi salah satu cabang olah raga resmi dengan aturan bakunya, tanpa harus meninggalkan kekhasan tradisi atau alirannya seperti pada pencak silat.

Bahan Baku

  Dalam banyak contoh permainan, bahan-bahan yang dipakai untuk bermain didapat dari bahan-bahan alami yang ada di sekitar hunian atau tinggal memungut saja. Bisa berupa daun, buah, kayu, bambu, tempurung kelapa, dan lainnya. Namun demikian, masalah timbul di saat sumber daya genetik itu ternyata sudah tidak ada atau tidak dilestarikan.

Contohnya permainan sumbar suru pada anak-anak Jawa, khususnya anak perempuan. Saat ini konon sudah tidak dikenal lagi di Surakarta.

Pohon sawo kecik, di mana biji dari buahnya dipakai untuk permainan itu sekarang sudah susah untuk dijumpai. para penjual di pasar juga sudah tidak lagi berjualan sawo kecik.

Selain itu, juga masalah tempurung kelapa yang dulu tidak digunakan setelah dagingnya diolah. Seiring dengan perkembangan, kini batok kelapa justru dapat digunakan sebagai produk kerajinan dan bernilai seni tinggi. Jadi tidak hanya sekadar untuk alat permainan saja.

LapanganKalau seluruh pihak terkait berniat untuk tetap menghidupkan berbagai mainan dan permainan tradisional, maka perlu disertai upaya meyakinkan para perancang tata ruang perkotaan dan perdesaan untuk senantiasa menyediakan ruang nyata untuk itu.

Juga perlu diciptakan suatu lapangan usaha untuk memproduksi mainan-mainan maupun alat permainan yang bersumber dari tradisi berbagai suku bangsa di Indonesia, sehingga dapat dikonsumsi lintas budaya.

Tapi upaya pelestarian mainan dan permainan tradisional itu harus dilandasi strategi penciptaan kesadaran budaya, karena tidak akan pernah terjadi dengan sendirinya. Dalam hal ini, sinergi antara dunia industri dan media massa harus tercipta dengan berbekal wawasan budaya yang cukup.

Selain itu, disisakan juga ruang untuk anak-anak dan remaja merancang dan membuat sendiri alat-alat bermainnya. peluang kreatif dalam dunia bermain itu merupakan sesuatu wadah yang tidak akan ada habisnya dan akan terus berkembang. (Andrian Novery)

sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=187978

Harus diakui, seiring dengan majunya teknologi, anak-anak yang tinggal di kota-kota besar semakin asing dengan permainan tradisional yang sebetulnya banyak bermuatan rangsangan positif. Bila keadaan ini terus berlanjut, menurut Dra. Mayke S. Tedjasaputra, MSi, besar kemungkinan permainan-permainan tradisional itu kelak tak lagi dikenal, apalagi dimainkan oleh anak-anak.

Hal ini tentu tidak terjadi begitu saja, karena biasanya orang tualah yang lupa memperkenalkan permainan di masa kecilnya kepada anak-anak. “Sebaliknya, suatu permainan akan terus bertahan jika kita menurunkannya secara estafet ke anak kita, lalu dari anak kita diturunkan lagi ke cucu kita, dan selanjutnya.”

Mayke juga mengingatkan, imbas permainan modern yang mengandalkan aneka bentuk dan jenis menarik bukan satu-satunya faktor yang mengalahkan pamor permainan tradisional. Jangan lupa, makin sempitnya areal atau lahan tempat anak bermain di alam bebas, serta makin sibuknya anak dalam aktivitas sehari-hari juga membuat permainan tradisional ini makin terlupakan.

Ditambah lagi, stimulus yang anak dapatkan setiap waktu selalu bernuansa modern, seperti pergi ke mal, makan di resto yang menyediakan menu modern, atau belajar dengan memakai sarana komputer. Tak heran bila anak-anak kita, apalagi cucu-cucu kita nanti semakin miskin dalam pengalamannya bermain permaianan tradisional.

 

ANEKA MANFAAT

Menurut Mayke, permainan modern bisa dengan mudah menggusur permainan tradisional karena bentuknya yang variatif, begitu pula warna dan jenis permainannya. Mendapatkannya juga mudah, bisa dimainkan di mana saja, bisa dilakukan kapan saja (jenis indoor), dan walaupun tanpa teman anak bisa memainkannya dengan seru.

Sementara, hampir semua permainan tradisional harus dilakukan dengan teman, membutuhkan ruang terbuka (outdoor), dan kebanyakan harus dimainkan di arena yang cukup luas. Anak-anak kadang juga harus berusaha dulu sebelum bisa melakukan salah satu permainannya, seperti membuat gambar atau membuat alatnya. Variasi untuk satu jenis mainan pun tidak banyak; penampilannya juga tak semenarik permainan modern.

“Walaupun begitu, permainan seperti engklek, yoyo, congklak, dan petak umpet sebetulnya bisa juga dimainkan di dalam ruangan. Jadi, permainan tradisional pun sebetulnya bersifat fleksibel atau bisa dimainkan di mana saja. Galah asin, misalnya, meskipun lebih seru dimainkan di luar ruang, tapi kalau situasi tidak memungkinkan, bisa saja dimainkan di dalam ruang. Hanya saja tempatnya harus luas, di lapangan bulu tangkis atau aula, misalnya,” urai Mayke.

Karena permainan tradisional umumnya dilakukan berkelompok, maka permainan ini otomatis mengajarkan kebersamaan, seperti dalam gobak sodor atau engklek. Beda dengan permainan berteknologi canggih yang umumnya dimainkan secara individual. “Memang, sih, ada juga permainan tradisional yang bisa dimainkan secara soliter selain bersama teman-teman, seperti yoyo, layang-layang, dan ketapel.”

Selain itu, permainan tradisional juga mengajarkan sportivitas dan aturan main yang disepakati bersama. Dengan gerakan-gerakan seperti berlari, berkelit, melompat, atau menaikturunkan tangan, fisik anak pun dilatih secara aktif. Jadi, dengan bermain permainan tradisional anak bisa mengasah kemampuan motorik, baik kasar maupun halus, serta gerak refleksnya.

Contoh sederhananya, dalam permainan galah asin, selain gerakan motorik, anak juga dilatih bersikap cekatan, berkonsentrasi, dan melihat peluang degan cepat untuk mengambil keputusan terbaik agar bisa menangkap lawan. Permainan seperti congklak, bahkan merangsang anak menggunakan strategi. Anak harus pandai menentukan poin atau biji di lubang mana yang harus diambil terlebih dahulu agar bisa mengumpulkan biji lebih banyak dari lawan.

Melihat manfaat-manfaat di atas, menurut Mayke, sebenarnya permainan tradisional ini penting dilakukan oleh anak-anak zaman sekarang. Selain untuk memperoleh manfaat yang tidak bisa didapat dari permainan modern, juga untuk mendapatkan wacana lain yang bisa membuat hidup anak lebih kaya dan berdinamika. “Terlebih, keterampilan fisik mempunyai kaitan erat dengan bekerjanya fungsi-fungsi saraf,” papar Mayke.

Hanya saja, kalau ditanya, permainan mana yang paling baik buat anak, yang tradisional atau yang modern? Menurut Mayke, tidak ada yang lebih baik ataupun lebih jelek. Ia berpendapat antara permainan tradisional dengan permainan modern punya manfaat yang saling melengkapi. Dari permainan modern, anak-anak bisa mendapat rangsangan yang bersifat kognitif, sedangkan yang bersifat fisik, kebersamaan, dan ketangkasan bisa diperoleh dari permainan tradisional.

 

BERI CONTOH LEBIH DAHULU

 

Sebenarnya tak sulit memperkenalkan permainan tradisional itu. Mayke menyarankan, “Ajak anak dan teman-temannya melakukan salah satu permainan, lalu beri contoh cara memainkannya. Terangkan kepada mereka bahwa permainan itu tidak kalah seru dari permainan yang menggunakan baterai, tombol atau monitor. Beri tahu juga bahwa kita dulu sering melakukan permainan tersebut setiap hari. Tak ada salahnya, kita ajak anak untuk membuat terlebih dahulu alat permainannya, misal, membuat ketapel, gasing, ataupun gatrik. Jika memungkinkan, boleh saja kita beritahu trik-trik jitu dalam melakukan permainan tersebut.”

Jelaskan kepada anak bahwa stok permainan tradisional sangat banyak, sehingga mereka tak bakalan kehabisan. “Boleh dibilang, Indonesia ini sangat kaya akan permainan tradisional. Dari Sabang sampai Merauke mempunyai permainan tradisional khas daerahnya masing-masing,” ungkap Mayke.

Uniknya lagi, permainan tradisional Indonesia mempunyai waktu main tertentu, ada yang hanya bisa dilakukan di sore hari, siang hari, atau malam hari. Contoh, permainan Gatok dari Aceh yang menggunakan biji pinang dan tangan sebagai pelenting buah pinang, akan seru jika dilakukan di sore hari. Sementara permainan Nsya Asya/Tok Asya dari Papua, atau balapan menggelindingkan rotan yang dibentuk seperti ban, biasanya dilakukan pagi hari. Satu lagi, permainan oray-orayan dari Jawa Barat paling seru jika dimainkan kala terang bulan.

 

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05223-01.htm

Sebutan jajangkung (egrang), kolecer (kincir angin), keprak, hatong, celempung, karinding, dan sebagainya, kini sudah jarang didengar telinga. Nama-nama tersebut adalah sebutan untuk kaulinan barudak (permainan anak) tradisional Jawa Barat (Jabar)

Sebagian kecil permainan anak tersebut masih hidup di daerah pedesaan di wilayah selatan Jabar. Dengan merekonstruksi naskah kuno Jabar abad ke-15, Saweka Darma Sanghyang Siksakandang Karesian serta berkeliling ke daerah selatan Jabar, pemerhati mainan tradisional Sunda, Mohammad Zaini Alif, berhasil merekonstruksi 168 jenis kaulinan barudak. Jika penelitian itu dijalankan hingga wilayah utara Jabar, ia memperkirakan bisa menggambarkan kembali 250 jenis mainan tradisional di Jabar.

Namun, hingga kini berbagai permainan tradisional itu belum mendapatkan hak paten. Padahal, data base berikut sejarah tentang kaulinan barudak tradisional ini sudah lengkap dan tersusun rapi dari hasil penelitian Zaini selama 15 tahun. Beberapa orang yang peduli pada permainan rakyat ini menyarankan untuk mengurus hak paten karena biayanya murah. Mereka mengatakan untuk mengurus satu hak paten perlu dana Rp 300 ribu. Namun, biaya sebanyak itu tak terjangkau Zaini. ”Uang Rp 300 ribu dikalikan 168 mainan bukan uang yang sedikit buat saya,” ujar dia.

Selama ini, tutur Zaini, ia melakukan penelitian karena ingin membantu pemerintah melestarikan budaya tradisional. Ia mengaku tidak pernah memikirkan macam-macam termasuk hak cipta. Yang penting bagi dia adalah masyarakat tahu akar budayanya dan mampu melestarikannya. Namun, perhatian maupun kepedulian pemerintah untuk mengurus 168 jenis permainan anak Jabar ini tidak dirasakannya.

Rekonstruksi mainan tradisional ini juga dilakukan karena terdorong kebiasaannya bermain di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kec Tanjung Siang, Kab Subang, Jabar. Untuk memelihara minatnya terhadap mainan tradisional, setelah lulus dari SMAN 2 Kota Bandung, Zaini sengaja melanjutkan kuliah di Jurusan Desain Produk, Institut Teknologi Nasional (Itenas). Sambil kuliah, pada 1996 ia mulai mendesain dan membuat mainan edukasi dari sendal jepit. Ia membuat berbagai mainan pengasah kreativitas dan kemampuan motorik anak.

Namun, Zaini tidak puas. Waktu itu, ia mulai mengenang berbagai jenis mainan tradisional yang dimainkannya di kampung. Ia pun mulai bertualang terutama ke kampung-kampung adat di Jabar selatan untuk mencatat jenis-jenis permainan tradisional. Keinginannya untuk memperdalam mainan tradisional membawanya ke pendidikan Pascasarjana Desain Produk, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Saat mengajukan rencana penelitian tentang permainan tradisional, pembimbingnya menyarankan untuk menggantinya karena tidak ada naskah acuan. Saran itu tak dihiraukannya. Ia keluar masuk museum dan perpustakaan untuk menemukan naskah kuno tentang mainan tradisional masyarakat Sunda hingga akhirnya ia menemukan naskah kuno abad ke-15 tersebut.

Pada Pameran Pekan Produk Indonesia di Jakarta, Agustus 2007 silam, ia bertemu dengan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Ibu Ani Yudhoyono. Saat itu, Ibu Ani sangat antusias menceritakan bahwa semasa kecil ia pernah bermain sejumlah permainan rakyat. Sedangkan Presiden sendiri hanya berkata ‘berjuang terus’.

Meski berbagai jenis permainan ini berada di Jabar, Zaini mengaku baru satu kali bertemu dengan Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar, I Budhyana. Dalam pertemuan itu, Kadisbudpar begitu antusias dan berkata temuan tersebut merupakan impiannya. Namun, setelah pertemuan itu tak pernah ada kabar lanjutan.

Begitupun dengan Menteri Budaya dan Pariwisata, Jero Wacik, pernah ditemuinya. Namun, dari pertemuan-pertemuan tersebut memperlihatkan pemerintah tidak peduli pada permainan tradisional. ”Pemerintah kita senang dengan sesuatu yang sudah besar, tapi tidak mau menggosok batu menjadi intan,” katanya menjelaskan.

Pemerintah, menurut Zaini, baru akan sadar jika hampir kehilangan, seperti angklung dan reog Ponorogo. Bahkan, beberapa waktu lalu, ia melihat permainan rorodaan dipajang di museum Harvard. Perbedaan dengan rorodaan Sunda hanya pada kaki roda tersebut. Pajangan di museum tersebut menggunakan tanah liat, sedangkan rorodaan di Jabar menggunakan bambu.

Dikatakan Zaini, mainan tradisional Jabar dengan daerah lain pada umumnya dibedakan oleh materialnya. Untuk itu, negara lain bisa dengan mudah untuk mengklaim permainan tradisional Jabar ataupun Indonesia itu menjadi permainan negaranya. ”Namun, boro-boro mau mengurus masalah hak paten permainan anak tradisional, perhatian dan kepedulian pun tidak ada sama sekali,” kata dia menjelaskan. Selain rorodaan, permainan congklak kini juga sudah berada di banyak negara di dunia.

Begitupun permainan ngagondang atau main lisung sudah dianggap sebagai permainan tradisional masyarakat Karanganyar, Jateng. ”Padahal sudah jelas, permainan ngagondang yang menggunakan lisung merupakan asli permainan tradisional masyarakat Sunda yang merupakan masyarakat huma,” ujar dia.

Zaini mengaku yakin, bangsa Indonesia akan kehilangan jati dirinya, apabila masyarakat dan pemerintah sudah tidak peduli lagi pada budaya tradisional termasuk permianan tradisional anak. Karena bagaimanapun, permainan tradisional anak ini bisa membentuk watak anak menjadi kreatif, inovatif, berjiwa sosial, berbudaya, berahlak dan beriman, berbeda dengan mainan modern. ren

( )

sumber : http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=316914&kat_id=3

 Sabtu, 21 Juli 2007 | 17:24 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung:Sejumlah peneliti dan penggiat seni di Bandung akan membangun museum mainan rakyat tradisional. “Kemungkinan besar tempatnya di Saung Angklung,” ujar Taufik Hidayat Udjo, pengelola Saung Angklung Udjo di Bandung, Sabtu (21/7).

Menurut salah satu putra Udjo Ngalagena itu, pendirian museum ini sebagai bentuk kepedulian memelihara artefak budaya, khususnya mainan dan permainan rakyat Sunda. “Pengunjung bisa sekalian melihat mainan yang sudah punah dan cara membuat mainan tradisional,” katanya.

Mohamad Zaini Alif, penggagas pendirian museum ini, mengatakan sudah mempresentasikan soal mainan rakyat di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu. “Waktu itu saya mengajukan tiga konsep,” kata Zaini.

Pertama, kata dia, pengembangan aspek produknya, terkait dengan nasib mainan dan permainan rakyat. Kedua, pengembangan budaya bermain, yaitu bagaimana seorang anak bermain melalui permainan tersebut. Ketiga, pengembangan mainan ini. “Museum bagian dari aspek pertama,” katanya.

Zaini mengatakan dari penelitian yang dia lakukan sejak tahun 1996 hingga 2003, sedikitnya ada 120 mainan tradisional yang tersebar di Jawa Barat bagian tengah dan selatan. “Sekitar sepuluh persen dari jumlah itu sudah punah dan harus direkonstruksi,” katanya.

Mainan yang sudah punah itu, kata dia, antara lain toleot, bangbara ngapung, dan gogolekan dari daun padi. “Saya harus merekonstruksi mainan itu melalui orang yang pernah memainkannya dulu,” kata Zaini.

Rencananya, kata Zaini, museum mainan rakyat itu tidak akan menggunakan konsep museum pada umumnya. Kalau bisa, kata dia, museum dibangun menyerupai sebuah rumah yang di belakangnya ada tempat bermain dan workshop membuat mainan. “Jangan menyeramkan atau angker,” katanya.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Bandung Askary Wiraatmaja menyambut baik rencana ini. Dia berjanji akan membantu pendirian museum ini. “Ini kepedulian kita bersama,” ujarnya.

Rana Akbari Fitriawan

sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2007/07/21/brk,20070721-104124,id.html

Ular-Ularan

Nah ini permainan ramai-ramai. Perlu dua kelompok untuk memainkannya. Masing-masing kelompok berbaris ke belakang dengan memegang bahu teman di depan. Anak yang terdepan berperan sebagai ular. Bagian belakang dan tengah merupakan badan dan ekor “ular”. Ketika ular bergerak, semua anggotanya juga bergerak meliuk-luik mengikuti sang kepala ular. Biasanya kedua kelompok saling “terkam”, mengambil anggota lawannya. Bagi yang tertangkap, artinya si anak menjadi anggota baru kelompok lawan. Mainan ini melatih ketangkasan fisik, juga melatih kemampuan motorik kasar kita.

sumber : http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Canda&id=32803

Bekel

Dengan sebuah bola karet kecil dan biji kuningan, paling sedikit dua anak bisa memainkan bekel. Diundi dulu, untuk menentukan urutan pemain. Dasar permainan ini adalah mengubah posisi biji kuningan setelah bola dilambungkan ke atas. Biasanya dimainkan tiga babak, dari mengambil satu biji, lalu dua biji hingga tiga biji kuningan sekaligus. Mengubah biji dari posisi duduk ke berbaring atau sebaliknya. Dari permainan ini kita tahu, ada “aturan’ yang selalu harus kita ikuti. Sementara bila melanggarnya, kita salah dan kalah.

sumber : http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Canda&id=32803

Egrang

Dikenal juga dengan nama Arul atau Kaki Bangau. Mainan ini dari menggunakan alas kaki dari batok kelapa yang diberi tali yang harus dipegang tangan. Biasa juga dua batang kayu yang diberi tempat pijakan kaki untuk berjalan-jalan. Bila mahir kalian terlihat sangat tinggi. Mainan ini sangat baik melatih otot tangan dan kaki, keseimbangan badan, juga ketekunan kita untuk berlatih. Awas, mainan ini agak sulit, jadi perlu latihan berulang kali sebelum kamu mahir menggunakannya. Satu hal, hati-hati dalam melangkah supaya tidak jatuh!

sumber : http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Canda&id=32803

sumber gambar : http://www.kompas.com/photo/iptek/egrang.jpg

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.