<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mainan Tempo Doeloe</title>
	<atom:link href="http://mainantempodoeloe.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com</link>
	<description>Dokumentasi Mainan dan Permainan yang sering dimainkan anak Indonesia tempo doeloe</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Jan 2008 03:30:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mainantempodoeloe.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mainan Tempo Doeloe</title>
		<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mainantempodoeloe.wordpress.com/osd.xml" title="Mainan Tempo Doeloe" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mainantempodoeloe.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hong, Mari Bermain</title>
		<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2008/01/29/hong-mari-bermain/</link>
		<comments>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2008/01/29/hong-mari-bermain/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 03:30:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rumah Sains ilma</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel dan fitur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2008/01/29/hong-mari-bermain/</guid>
		<description><![CDATA[Ada makna pertemuan antara manusia dan Tuhan di antara mainan itu. Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=317702&#38;kat_id=460 Di suatu Subuh, bayangan rembulan masih terlihat saat seorang lelaki yang menginjak remaja, Mohamad Zaini Alif, berjalan kaki menuju sekolahnya di SMPN 1 Tanjungsiang, Kabupaten Subang. Napasnya sedikit terengah, karena ia harus menempuh perjalanan sejauh lima km atau 1,5 jam berjalan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=33&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font>Ada makna pertemuan antara manusia dan Tuhan di antara mainan itu.</font></p>
<p>Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=317702&amp;kat_id=460</p>
<p><font> Di suatu Subuh, bayangan rembulan masih terlihat saat seorang lelaki yang menginjak remaja, Mohamad Zaini Alif, berjalan kaki menuju sekolahnya di SMPN 1 Tanjungsiang, Kabupaten Subang. Napasnya sedikit terengah, karena ia harus menempuh perjalanan sejauh lima km atau 1,5 jam berjalan kaki. Namun, pemandangan pepohonan karet dan kluwak di kebun sepanjang perjalanan serta embun pagi membuatnya selalu segar dan tidak lelah.</font></p>
<p><font> </font><font>Waktu yang ditunggunya adalah saat pulang sekolah. Ia bersama teman-temannya mencari biji pepohonan karet dan kluwak untuk dibuat <i>kerkeran</i>, mainan seperti kipas angin. Baling-balingnya terbuat dari bambu dengan penyangga dari biji karet, kluwak, atau batok kelapa. Bagi anak kampung seperti dirinya, mainan buatan sendiri adalah bagian indah dari hidup yang terbawa hingga dewasa. </font></p>
<p><font> </font><font>Lelaki kelahiran Cibuluh, Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang, Jawa Barat ini memainkan berbagai jenis permainan di antaranya <i>kolecer</i> (sejenis kipas angin yang dipancang di sawah atau huma) dan <i>karinding</i> (alat tiup dari batang bambu yang disobek tengahnya) untuk mengusir binatang hama padi seperti serangga dan burung. Ia juga membuat wayang golek dari batang daun singkong yang mengering.</font></p>
<p><font> </font><font>Kecintaan kepada mainan tradisional asli Sunda membawa pria yang kini berusia 32 tahun itu menempuh pendidikan di Desain Produk Institut Teknologi Nasional (Itenas) dan ITB untuk meraih gelar S1 dan S2. Sejak 1996 ia mulai melakukan penelitian tentang mainan tradisional. Tak mudah melakukan penelitian itu karena sumbernya sangat sedikit. </font></p>
<p><font> </font><font>Lantaran penelitian permainan Sunda dan berniat untuk melestarikan, ia pun mendirikan komunitas Hong. Inilah komunitas yang merupakan pusat kajian mainan rakyat yang didirikan pada 2003. Komunitas yang bertekad melestarikan mainan dan permainan rakyat ini melakukan penelitian mainan sejak 1996. </font></p>
<p><font> </font><font>Tak hanya menjadi tempat berkumpul, komunitas ini juga menjadi wadah pencinta, peneliti, dan produsen mainan anak. &#8216;Hong&#8217; sendiri adalah kata yang diteriakkan anak-anak Sunda saat bertemu teman. &#8221;Hong juga berarti pertemuan dengan Yang Maha Kuasa,&#8221; ungkap lelaki kelahiran Subang, 9 Mei 1975, itu. </font></p>
<p><font> </font><font>Komunitas ini terdiri dari 150 anggota yang berasal dari masyarakat dari berbagai usia mulai dari 6-90 tahun. Kelompok anak adalah pelaku dalam permainan, sedangkan untuk anggota dewasa adalah nara sumber dan pembuat mainan. Komunitas Hong terus menggali dan merekonstruksi mainan rakyat baik itu dari tradisi lisan berupa naskah-naskah kuno. Mereka juga berusaha memperkenalkan mainan rakyat dengan tujuan menanamkan sebuah pola pendidikan masyarakat <i>buhun</i> masyarakat yang memegang adat istiadat Parahyangan (Sunda) agar seorang anak mengenal diri, lingkungannya, dan Tuhan. </font></p>
<p><font>  </font><font><b>Rekonstruksi ulang</b><br />
</font></p>
<p><font>Dari hasil penelitian Zaini, komunitas Hong lantas merekonstruksi ulang 168 jenis mainan yang berasal dari daerah Jabar Selatan dan daerah tengah Jabar. Komunitas ini mempunyai cita-cita untuk meneliti di seluruh provinsi atau setidaknya Jabar daerah utara. &#8221;Saya memprediksi ada sekitar 250 jenis mainan tradisional Jabar,&#8221; ungkap dosen desain dan kebudayaan Itenas ini. </font></p>
<p><font> </font><font>Dalam kesehariannya, komunitas Hong mempunyai agenda kegiatan rutin ataupun kegiatan besar. &#8221;Kami sering bermain bersama sehabis pulang sekolah di ladang, sungai, dan jenis permainannya pun berbeda tergantung musim,&#8221; ungkap Zaini. Kegiatan besarnya adalah pembuatan kampung &#8216;kolecer&#8217; (<i>workshop</i>), tempat melatih mainan dan permainan rakyat yang ada di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kec Tanjungsiang, Subang. </font></p>
<p><font> </font><font>Rupanya, kegiatan itu tak hanya berakhir pada sebuah kegiatan yang menyenangkan saja. Mainan-mainan itu pun dapat diolah menjadi cendera mata yang mendatangkan uang. Uang itu kemudian digunakan untuk kelanjutan sekolah anak-anak di desanya. &#8221;Sesudah main, biasanya mereka kumpulkan lalu menjualnya. Lumayan bisa buat tambahan uang sekolah dan memberi pada orangtua,&#8221; kata Zaini. </font></p>
<p><font> </font><font>Lewat divisi dana dan usaha di kampung &#8216;kolecer&#8217;, uang tersebut disalurkan dalam bentuk beasiswa untuk anak-anak. Asep adalah salah satu anggota komunitas ini yang sudah &#8216;menikmati&#8217; beasiswa itu. Berkat uang itu, dia dapat melanjutkan sekolahnya. Selain itu, &#8221;Saya juga senang karena bisa belajar, bermain, dan menghasilkan uang sekaligus.&#8221;ren</font></p>
<p><font>   </font><font><b>Belajar Hidup Lewat Mainan </b></font></p>
<p><font>  </font><font>Dulu, mainan sudah jadi hal yang amat penting sehingga ada ahlinya. &#8221;Ketika itu mainan bukan hal sepele atau sekadar main-main. Justru dari mainan orang belajar bersosialisasi, mengatasi kesepian, mengatur keseimbangan otak, bekerja sama, serta mengenal lingkungan,&#8221; ujar pendiri komunitas Hong, Muhammad Zaini Alif. </font></p>
<p><font> </font><font>Seperti di daerah Jabar Selatan, orangtua memangku anaknya untuk bermain <i>surser</i> dengan menggerakkan tangan anak bergantian ke lutut kanan dan kiri orangtuanya untuk melatih koordinasi otak kiri dan kanan serta mendekatkan hubungan keduanya.</font></p>
<p><font> </font><font>Anak-anak bermain <i>jajangkung (egrang)</i> untuk melatih keseimbangan; mengusir sepi dengan memainkan <i>keprak</i> (batang bambu yang dibelah salah satu ujungnya menjadi lengkungan;, <i>hatong</i> (batang bambu yang disobek dan dilubangi), atau <i>celempung</i> (bambu yang dilubangi dan dipukul). </font></p>
<p><font> </font><font>Bagi Zaini, inilah perbedaan besar antara permainan masa kini dan mainan tradisional. Tak cuma melatih otak, permainan tradisional juga melatih rasa. Hal itulah yang tidak ada dalam permainan modern. &#8221;Permainan sekarang banyak yang dibuat untuk melatih kreativitas. Namun, permainan tradisional diciptakan untuk melatih psikomotorik, pedagogis, psikologis, dan banyak hal yang ada dalam diri manusia,&#8221; cetus dia. ren </font></p>
<p><font>    					  ( )</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=33&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2008/01/29/hong-mari-bermain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fdc131e7a4dcd09e7d106a1c42d61fc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahsainsilma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dolanan Bocah</title>
		<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2008/01/01/dolanan-bocah/</link>
		<comments>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2008/01/01/dolanan-bocah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 09:58:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rumah Sains ilma</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel dan fitur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2008/01/01/dolanan-bocah/</guid>
		<description><![CDATA[SEJAK awal manusia Jawa begitu religius. Apalagi ketika para wali mulai menanamkan pemahaman agamanya. Ini bisa dilihat dari peninggalan masa silam berupa dolanan bocah. Sayang kini tinggal kenangan dan sudah ditanggalkan dan ditinggalkan. Menurut Babad, Sunan Giri terhitung seorang ahli pendidik di samping pedagang, yang berjiwa demokratis. Beliau mendidik anak-anak dengan jalan membuat bermacam-macam permainan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=32&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>     <font>     <b>SEJAK</b> awal manusia Jawa begitu religius. Apalagi ketika para wali  mulai menanamkan pemahaman agamanya. Ini bisa dilihat dari peninggalan masa  silam berupa dolanan bocah. Sayang kini tinggal kenangan dan sudah ditanggalkan  dan ditinggalkan.<br />
Menurut Babad, Sunan Giri terhitung seorang ahli pendidik di samping pedagang,  yang berjiwa demokratis. Beliau mendidik anak-anak dengan jalan membuat  bermacam-macam permainan yang berjiwa agama. seperti misalnya : jethungan,  jamuran, gendi gerit, jor, gula-ganti, cublak-cublak suweng, ilir-ilir dan  sebagainya.</p>
<p>Diantara permainan kanak-kanak gubahannya adalah ”jethungan” atau ”jelungan”.  Adapun caranya ; Anak-anak banyak, satu di antaranya menjadi ”pemburu”, lain-lainnya  jadi ”buruan” mereka ini akan ‘selamat’ atau ‘bebas’ dari terkaman ‘pemburunya’,  apabila telah berpegangan pada ‘jitungan’, yaitu satu pohon, tiang atau tonggak  yang telah ditentukan terlebih dahulu.<br />
Permainan ini dimaksudkan untuk mendidik pengertian tentang keselamatan hidup,  yaitu : bahwa apabila sudah berpegangan kepada agama yang berdasarkan ke Tuhanan  Yang Maha Esa sajalah, maka manusia (buruan) itu akan selamat dari terkaman  iblis (pemburunya).<br />
Di samping itu diajarkannya pula nyanyian-nyanyian untuk kanak-kanak yang  bersifat paedagogis serta berjiwa agama, Di antaranya adalah berupa ‘tembang  dolanan bocah’, yang berbunyi ;<br />
”Padang-padang bulan, ayo gage da dolanan, dolanane naning latar, ngalap padang  gilar-gilar, nendang bagog hangatikar”, yang dalam bahasa Indonesianya kira-kira  begini :<br />
”Terang-terang bulan, marilah lekas bermain, bermain dihalaman, mengambil  manfaat dari terang benderang, mengusir gelap yang lari terbirit-birit”. Maksud  tembang tersebut adalah : Agama Islam (bulan) telah datang memberi penerangan  hidup, maka marilah segera orang menuntut penghidupan (dolanan, bermain) di bumi  ini (latar, halaman) akan mengambil manfaat ilmu agama Islam (padang,  gilar-gilar, terang benderang) itu, agar sesat kebodohan diri (begog, gelap)  segera terusir.<br />
Terkenal pula tembang buat kanak-kanak yang bernama ”Ilir-ilir” yang isinya  mengandung filsafat serta berjiwa agama.<br />
Maksudnya adalah : sang bayi yang baru lahir di dalam dunia ini masih suci  bersih, murni, sehingga ibarat seperti penganten baru, siapa saja ingin  memandangnya, ”bocah angon” (penggembala) itu diumpamakan santri, mualim,  artinya orang yang menjalankan syariat agama. Sedangkan ”blimbing” diibaratkan  blimbing itu mempunyai lima belahannya, maksudnya untuk menjalankan sembahyang  lima waktu. Meskipun ”lunyu-lunyu” (licin). tolong panjatkan juga, kendatipun  sembahyang itu susah, namun kerjakanlah, buat membasuh ”dodotira-dodotira,  kumitir bedah ing pinggir” maksudnya kendatipun sholat itu susah, tetapi  kerjakan guna membasuh hati dan jiwa kita yang kotor ini. ”Dondomono, jrumatana,  kanggo sebo mengko sore, dan surak-surak hore”. Maksudnya ” bahwa orang hidup di  dalam dunia ini senantiasa condong kearah berbuat dosa, segan mengerjakan yang  baik dan benar serta utama, sehingga dengan menjalankan sholat itu diharapkan  besuk dikelak kemudian dapat kita buat sebagai bekal kita dalam menghadap  kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, bekal itu adalah beramal saleh. <i><b>(SW)</b></i></font></p>
<p>sumber : http://www.kr.co.id/mp/print.php?sid=5935</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=32&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2008/01/01/dolanan-bocah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fdc131e7a4dcd09e7d106a1c42d61fc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahsainsilma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PARMAINAN TRADISIONAL JAWA : EGRANG</title>
		<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/parmainan-tradisional-jawa-egrang/</link>
		<comments>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/parmainan-tradisional-jawa-egrang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 07:28:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rumah Sains ilma</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel dan fitur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/parmainan-tradisional-jawa-egrang/</guid>
		<description><![CDATA[Orang Jawa mengenal berbagai macam jenis permainan tradisional, yang sekarang tidak lagi ditemukan. Berbagai macam permainan tradisional tersebut memberi ruang ketrampilan bagi pemakainya. Dalam kata lain, permainan tradisional Jawa tidak menempatkan relasinya hanya pasif. Lebih dari itu harus aktif dan kreatif. Sebab, permainan tradisional Jawa memberikan rangsangan kreatif bagi relasinya. Salah satu jenis permainan tradisional [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=30&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#000000"><font face="Verdana" size="2">Orang Jawa  mengenal berbagai macam jenis permainan tradisional, yang sekarang tidak lagi  ditemukan. Berbagai macam permainan tradisional tersebut memberi ruang  ketrampilan bagi pemakainya. Dalam kata lain, permainan tradisional Jawa tidak  menempatkan relasinya hanya pasif. Lebih dari itu harus aktif dan kreatif.  Sebab, permainan tradisional Jawa memberikan rangsangan kreatif bagi relasinya.</font></font></p>
<p align="left"><font color="#000000"><font face="Verdana" size="2">Salah satu jenis permainan  tradisional Jawa apa yang dikenal sebagai egrang. Permainan ini mengandaikan  pemakai/relasinya lebih tinggi posisinya. Diluar ukuran tinggi manusia. Bahan  yang dipakai sebagai egrang adalah bambu, yang dibuat meyerupai tangga, tetapi  tangganya hanya satu. Kapan orang memakai egrang kakinya dinaikan di atas satu  tangga, atau pustep kalau meminjam istilah sepeda motor, untuk kemudian  berjalan. Jadi, pemakai egrang naik diatas bambu yang dibuat sebagai jenis  mainan dan kemudian berjalan kaki.</font></font></p>
<p align="left"><font color="#000000"><font face="Verdana" size="2">Karena itu, orang yang memakai  egrang perlu melewati proses belajar dulu, karena membutuhkan keseimbangan.  Kapan keseimbangan tidak terpenuhi orang bisa jatuh dari egrang. Siapapun bisa  menggunakan egrang, tidak harus anak-anak, orang dewasapun bisa menggunakannya.</font></font></p>
<p align="left"><font color="#000000"><font face="Verdana" size="2">Egrang bentuknya bisa pendek,  tetapi bisa pula tinggi. Yang pasti, kapan orang bermain egrang, posisi tubuhnya  menjadi jauh lebih tinggi dari tubuh yang sebenarnya. Persis seperti orang  berdiri di tangga, atau naik di atas meja.</font></font></p>
<p align="left"><font color="#000000"><font face="Verdana" size="2">Namun permainan egrang sekarang  tidak lagi mudah ditemukan. Mungkin malah sudah hilang. Atau barangkali,  permainan egrang tidak lagi relevan di jaman sekarang. Di tengah anak-anak  terbiasa dengan eskalator yang tersedia di mall: hanya berdiri tangga bisa  berjalan sendiri. Egrang sepertinya memberikan “rasa susah” dari fasilitas  teknologi.</font></font></p>
<p align="left"><font color="#000000"><font face="Verdana" size="2">Tampaknya proses membentuk  kreativitas telah menemukan formula yang sama sekali lain. Tidak berawal dari  kesaadaran dan inisiatif dari dirinya sendiri dan hanya sedikit sekali  memerlukan dorongan dari luar seperti egrang. Kreativitas jaman sekarang  memerlukan instrumen yang tidak lagi sederhana dan, sulit meninggalkan  teknologi.</font></font></p>
<p align="left"><font color="#000000"><font face="Verdana" size="2">Karena itu, egrang adalah masa  lalu yang sekedar untuk dikenang dan sulit untuk ditemukan. Anak-anak tidak lagi  “mengenal” apa itu egrang dan bagaimana bentuknya. Bagaimana pula cara  memakainya.</font></font></p>
<p align="left"><font color="#000000"><font face="Verdana" size="2">Mungkin, kembali untuk mengenalkan  ingatan terhadap permainan tradisional Jawa, egrang dan jenis permainan  tradisional lainnya perlu untuk dihadirkan. Bukan yang utama untuk mengembalikan  “kisah masa lalu”. Namun lebih untuk memberikan referensi kultural pada  anak-anak sekarang yang terbiasa dengan permainan yang serba teknologis.</font></font></p>
<p align="left"><font color="#000000"><font face="Verdana" size="2">Dari egrang, barangkali orang bisa  menanapki jenis permainan tradisional Jawa lainnya yang sekarang sekedar sebagai  kenangan.</font></font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#000000;" align="right"> <font color="#000000" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"><strong>Ons Untoro</strong></font></p>
<p style="font-family:Verdana;color:#000000;" align="left">sumber : http://www.tembi.org/cover/20060319.htm</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=30&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/parmainan-tradisional-jawa-egrang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fdc131e7a4dcd09e7d106a1c42d61fc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahsainsilma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kearifan Lokal Permainan Tradisional</title>
		<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/kearifan-lokal-permainan-tradisional/</link>
		<comments>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/kearifan-lokal-permainan-tradisional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 07:20:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rumah Sains ilma</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel dan fitur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/kearifan-lokal-permainan-tradisional/</guid>
		<description><![CDATA[TIGA orang anak memperagakan &#8220;rorodaan&#8221; salah satu &#8220;kaulinan budak&#8221; (mainan anak) yang merupakan mainan khas anak pedesaan pada acara Pekan Promosi Taman Hutan Raya Juanda, Bandung, Sabtu (10/11).* RETNO HY/&#8221;PR&#8221; BANDUNG, (PR).- Disadari atau tidak, arus deras mainan anak produksi luar negeri secara perlahan menggeser permainan tradisional yang penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal dan benteng [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=29&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="divnewsimage" style="width:215px;"> 				<img src="http://beta.pikiran-rakyat.com/foto/tgl_11_11_2007/01-kaulinan.jpg" height="136" width="200" /></p>
<blockquote><p>TIGA orang anak memperagakan &#8220;rorodaan&#8221; salah satu &#8220;kaulinan budak&#8221; (mainan anak) yang merupakan mainan khas anak pedesaan pada acara Pekan Promosi Taman Hutan Raya Juanda, Bandung, Sabtu (10/11).* RETNO HY/&#8221;PR&#8221;</p></blockquote>
<p><font size="2"></p>
<p align="justify">BANDUNG, (PR).-<br />
Disadari atau tidak, arus deras mainan anak produksi luar negeri secara perlahan menggeser permainan tradisional yang penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal dan benteng budaya. Sementara konsistensi pemerintah memberikan dukungan dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi masih setengah-setengah.</p>
<p align="justify">Demikian diungkapkan peneliti, pemerhati yang juga staf pengajar Desain dan Kebudayaan di Itenas Bandung, Mohamad Zaini Alif, di sela-sela lokakarya Kaulinan Barudak, di kawasan wisata Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, Dago Pakar, Bandung, Minggu (11/11)</p>
<p align="justify">&#8220;Dalam beberapa kali pertemuan dengan jajaran Disbudpar Jabar, saya telah paparkan mengenai konsep maupun program untuk melestarikan sekitar 120 mainan anak asli ti Sunda, dan bersedia untuk membantu. Tetapi hingga kini realisasinya tidak ada,&#8221; ujar pria yang kini membangun komunitas Hong dan Kampung Kolecer di kampung halamannya di Kec. Tanjungsiang Kab. Subang.</p>
<p align="justify">Asah kreativitas</p>
<p align="justify">Dikatakan Zaini, derasnya serbuan mainan anak produksi luar negeri, termasuk mainan murah dari Cina, membawa pengaruh sangat besar bagi daya pikir, karakter maupun sikap dan sifat seorang anak. Permainan anak saat ini banyak menciptakan emosional anak meningkat dan juga bersifat individualistik.</p>
<p align="justify">Berbeda dengan mainan anak tradisional, anak-anak dituntut kreatif sejak dalam proses pembuatannya yang harus berbaur dengan alam, karena bahan didapat dari lingkungan sekitar. Demikian pula saat memainkannya, selain dituntut kreatif juga harus memiliki strategi, kekuatan (tenaga), kebersamaan, kejujuran dan lainnya, yang berasal dari nilai-nilai kearifan lokal serta nilai-nilai tradisi yang merupakan benteng budaya.</p>
<p align="justify">Permainan anak tradisional tidak bisa dipandang hanya sebagai salah satu bentuk permainan semata. &#8220;Banyak nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal yang tertanam di sana. Permainan tradisi juga merupakan salah satu bentuk ketahanan budaya,&#8221; ujar Zaini.</p>
<p align="justify">Sebagai benteng ketahanan budaya, permainan anak (tradisional) masih cukup diminati, terutama oleh kelompok-kelompok orang yang masih ingin mengenang masa lalunya.</p>
<p align="justify">Zaini mengatakan, sejatinya permainan tradisi atau lebih dikenal dengan permainan rakyat merupakan sebuah kegiatan rekreatif yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara hubungan dan kenyamanan sosial.</p>
<p align="justify">Menurut dia, berdasarkan penelitian yang dilakukannya, permainan anak tradisional memiliki nilai pembelajaran bagi anak-anak, seperti nilai ekonomi hingga demokrasi. Permainan dakon atau congklak, misalnya, dimaknai sebagai permainan yang mendidik anak agar rajin menabung dan bersikap ekonomis. &#8220;Permainan ini menimbulkan hasrat anak untuk menemukan strategi mengumpulkan mata dakon, yang biasanya terbuat dari kulit kerang, sebanyak mungkin dalam wadah tabungan,&#8221; ujarnya.</p>
<p align="justify">Permainan benteng-bentengan dan gobak sodor, selain memiliki nilai keceriaan yang tinggi, permainan ini juga membantu anak berpikir strategis. Menolong temannya yang berada dalam cengkeraman lawan bermainnya dan juga membantu timnya memenangi pertandingan, tentu membutuhkan kerja sama, kekompakan, dan kecerdasan berpikir, tanpa mencederai aturan permainan yang telah disepakati bersama. Sanksi sosial siap diterapkan atas diri anak-anak yang berlaku tidak patut dalam permainan itu.</p>
<p align="justify">Kini, sedikitnya ada 120 permainan tradisional anak yang sudah diteliti dan dikoleksi. Zaini bersama 150 orang komunitas Hong selain melakukan kegiatan rutin memainkan permainan anak setiap minggunya, juga membuat mainan serta cindera mata untuk dijual dan hasilnya untuk mendanai kegiatan mereka.</p>
<p align="justify">&#8220;Kalau menunggu bantuan dari pemerintah, kapan kami akan memulai pelestarian mainan anak, karenanya kami memulai sendiri dengan membangun Kampung Kolecer dan mengisinya dengan aneka kegiatan,&#8221; ujar Zaini.</p>
<p align="justify">Berkenaan dengan rencana pembangunan museum mainan anak yang pernah dilontarkan dirinya maupun Taufik Udjo serta Kadisbupar Kota Bandung Drs. Askary, Zaini mengatakan, hal tersebut baru rencana di mulut. &#8220;Hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan dilaksanakan, padahal dari tingkat presiden, menteri, kadisbudpar sudah menyatakan siap,&#8221; ujar Zaini.</p>
<p align="justify">Sementara pada lokakarya yang diselenggarakan bersama Perum Perhutani Jabar di Tahura Juanda digelar sejumlah permainan. Semisal dodorongan, jajangkungan, tetembakan, wawayangan dan lainnya. (A-87)***</p>
<p align="justify">sumber :  http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;id=1206</p>
<p></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=29&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/kearifan-lokal-permainan-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fdc131e7a4dcd09e7d106a1c42d61fc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahsainsilma</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://beta.pikiran-rakyat.com/foto/tgl_11_11_2007/01-kaulinan.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sayang Anak (Jeruk Bali)</title>
		<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/sayang-anak-jeruk-bali/</link>
		<comments>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/sayang-anak-jeruk-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 07:10:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rumah Sains ilma</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel dan fitur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/sayang-anak-jeruk-bali/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Sekilas Jeruk Bali (citrus maxima) Bentuk rupa yang besar dengan penampang kulit yang tebal berwarna kuning kehijauan serta isi dagingnya yang berwarna merah dan ada pula yang berwarna putih. Rasanya manis, asam terkadang ada juga yang pahit, kandungan airnya yang banyak, ternyata memiliki manfaat yang luar biasa. Manfaat dari Jeruk Bali tersebut adalah mampu mencegah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=28&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wordpress.com/tag/mainan-anak-anak/" title="View all posts in Mainan Anak-Anak" rel="category tag"></a></p>
<p class="postmeta">&nbsp;</p>
<p class="snap_preview"><strong>Sekilas Jeruk Bali (citrus maxima)</strong></p>
<p>Bentuk rupa yang besar dengan penampang kulit yang tebal berwarna kuning kehijauan serta isi dagingnya yang berwarna merah dan ada pula yang berwarna putih. Rasanya manis, asam terkadang ada juga yang pahit, kandungan airnya yang banyak, ternyata memiliki manfaat yang luar biasa. Manfaat dari Jeruk Bali tersebut adalah mampu mencegah kanker, menurunkan risiko penyakit jantung, melancarkan saluran pencernaan, menjaga kesehatan kulit, menurunkan kolesterol dan mencegah anemia. Kulit Jeruk Bali yang tebal biasa dibuat orang-orang untuk manisan, rasanya enak sekali dan manis. Adakah manfaat-manfaat lainnya dari Jeruk Bali tersebut?</p>
<p><strong>Mainan Anak-Anak</strong></p>
<p>Mainan anak-anak saat ini jauh lebih baik dan murah dibandingkan dengan mainan anak-anak jaman dulu. Beragam mainan anak-anak yang pada umumnya terbuat dari plastik mendominasi sebesar kurang lebih 80% dari total mainan anak-anak yang ada sekarang ini. Jika dinilai dari harganya, plastik jauh lebih murah dan dapat menekan harga barang mainan. Disamping itu plastik jauh lebih elastis dan tidak mudah pecah atau retak, tergantung dari penampang dan desain plastik itu sendiri dijadikan sebuah mainan. Terpikirkah oleh anda jika plastik-plastik tersebut sudah tidak terpakai lagi? Berapa banyak sampah plastik yang akan dihasilkan dunia tiap harinya? Mampukah semua itu didaur ulang, atau mudahnya saja kebanyakan orang tinggal membuangnya tanpa berfikir dampak kedepannya.</p>
<p><strong>Mainan Ramah Lingkungan</strong></p>
<p>Coba anda ingat-ingat kembali kemasa kecil, pernahkah anda membuat mainan sendiri? Pernahkah anda membuatnya dari bahan tumbuh-tumbuhan yang ramah lingkungan? Saya akan coba kembali menumbuhkan ingatan anda dalam membuat mainan anak-anak dari bahan kulit Jeruk Bali. Disamping manfaat diatas, kulit Jeruk Bali dapat dibuat juga dibuat sebuah mainan anak-anak yang ramah lingkungan, disamping itu dapat menumbuhkan sifat bijak terhadap anak dalam mempergunakan barang-barang yang disediakan oleh Bumi ini. Saya akan menerangkan secara singkat bagaimana membuat mainan tersebut:</p>
<p>1. Belilah sebuah Jeruk Bali, lihat dan perhatikan penampang Jeruk Bali tersebut sebelum mengupasnya.<br />
2. Buatlah tanda dengan ujung pisau sebagai arah irisan, buat dari atas hingga bawah dan jadikan 1/4 bagian dari buah tersebut.<br />
<a href="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/011.jpg" title="011.jpg"><img src="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/011.jpg?w=500" alt="011.jpg" /></a><br />
3. Mulailah dengan mengiris secara perlahan (gunakan ujung pisau) atur sehingga ujung pisau hanya mengiris bagian kulitnya saja dan tidak mengiris hingga bagian dalam.<br />
4. Bukalah irisan tersebut sehingga didapat 1/4 bagian kulit buah tersebut.<br />
<a href="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/021.jpg" title="021.jpg"><img src="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/021.jpg?w=500" alt="021.jpg" /></a><br />
5. Selanjutnya belahlah 1/4 bagian tersebut dengan arah memanjang menjadi 2 bagian yang sama luasnya.<br />
6. Salah satu bagian (kita sebut badan), potong salah satu ujungnya sehingga terlihat tumpul dan berilah lubang seperti terlihat pada gambar.<br />
<a href="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/03.jpg" title="03.jpg"><img src="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/03.jpg?w=500" alt="03.jpg" /></a><br />
7. Lalu kemudian buatlah potongan bagian yang lainnya untuk membuat rodanya menjadi 2 buah, lalu berilah lubang namun jangan sampai tembus ke permukaan dibaliknya.<br />
8. Pada bagian badan berilah lubang pada sisi ketebalannya hingga menembus sisi lainnya (seperti terlihat pada gambar), lalu berilah potongan sedotan plastik sepanjang kedalaman lubang tersebut.<br />
<a href="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/04.jpg" title="04.jpg"><img src="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/04.jpg?w=500" alt="04.jpg" /></a><br />
9. Sekarang kita sudah memiliki bagian badan dan 2 buah roda, buatlah poros dengan menggunakan tusuk sate yang terbuat dari bambu (usahakan penampangnya sebulat mungkin) lalu potong sepanjang kedalaman poros ditambah 2 kali ketebalan kulit jeruk tersebut.<br />
10. Saatnya mulai perakitan, rakitlah terlebih dahulu poros bambu masukkan kedalam lubang yang terdapat dibagian badan, baru tancapkan roda pada ujung poros kiri dan kanan bambu tersebut.<br />
11. Berilah jarak antara roda dengan badan agar roda dapat berputar bebas.<br />
<a href="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/05.jpg" title="05.jpg"><img src="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/05.jpg?w=500" alt="05.jpg" /></a><br />
12. Akhirnya kita sampai pada bagian akhir dari pembuatan mainan yang ramah lingkungan, ikatkanlah benang pada bagian badan pada ujung tumpulnya yang telah diberi lubang sebelumnya (agar lubang tidak cepat aus tergesek benang, berilah sedotan plastik pada lubang tersebut sehingga benang tidak langsung kontak dengan bagian badan tersebut).<br />
13. Mobil-mobilan mini ini siap untuk diberikan kepada buah hati anda.<br />
<a href="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/06.jpg" title="06.jpg"><img src="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/06.jpg?w=500" alt="06.jpg" /></a></p>
<p>Hal-hal yang harus diperhatikan:</p>
<ol>
<li>Hadirkan anak anda selama proses pembuatan mainan ini, karena yang terpenting dari mainan ini adalah proses pembuatannya sebagai bahan dasar pelajaran praktikum bagi sang anak.</li>
<li>Jika anak anda banyak bertanya, berilah jawaban yang mudah dan masuk akal bagi sang anak.</li>
<li>Hindari pisau dari sang anak, sebaiknya gunakan cutter sehingga apabila tidak dipergunakan bisa langsung diamankan kedlam saku anda dan tidak dijamah oleh sang anak.</li>
<li>Ceritakanlah masa kecil anda (selama anda membuat mainan ini) kepada anak, agar mereka kelak bangga memiliki orang tua yang cerdik dan bijak.</li>
<li>Ajak anak-anak tetangga atau teman anak anda jikalau bisa, maksudnya adalah untuk melatih sang anak bekerja dalam sebuah tim.</li>
<li>Usahakan membuat modifikasi-modifikasi bentuk dari mainan ini, agar tradisi membuat mainan sendiri bagi sang anak berkembang dari masa ke masa. Contohnya anda bisa membuatnya menjadi 2 buah dan diberi tambatan sehingga bisa dikatakan seperti kereta atau truk gandeng, ceritakan maksud modifikasi tersebut kepada anak anda. Rangsanglah daya hayal mereka sehingga sang anak berani mengutarakan modifikasi yang ia inginkan, dan ini pertanda baik bagi anak anda.</li>
<li>Luangkan waktu anda bersama anak anda dalam hal-hal yang bersifat merubah kebiasaan buruk pada anak anda, maksudnya adalah jadikan hal-hal seperti ini sebagai salah satu jadwal bermain sang anak (belajar sambil bermain).</li>
</ol>
<p>Semua tergantung anda, proses mendidik anak dengan memperkenalkan tehnik sederhana merupakan awal rangsangan sang anak dalam menjamah tehnologi. Ini sifatnya tradisional namun dampaknya adalah sebuah proses mengenal tehnik manufaktur secara mini yang dapat diberikan kepada anak anda kelak didunia nyata.</p>
<p>sumber :  http://ichsany.wordpress.com/category/mainan-anak-anak/</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=28&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/sayang-anak-jeruk-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fdc131e7a4dcd09e7d106a1c42d61fc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahsainsilma</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/011.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">011.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/021.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">021.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/03.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">03.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/04.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">04.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/05.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">05.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsany.files.wordpress.com/2007/05/06.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">06.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pletokan</title>
		<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/pletokan/</link>
		<comments>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/pletokan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 03:01:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rumah Sains ilma</dc:creator>
				<category><![CDATA[mainan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/pletokan/</guid>
		<description><![CDATA[Pletokan atau peletokan, dikenal juga dengan nama celetok, dan di daerah Sunda disebut dengan Bebeletokan (beubeuleutokan). Mainan ini seperti tembakan yang terbuat dari bambu dengan menggunakan bermacam-macam peluru. Ada yang menggunakan kertas koran basah yang dibuat menjadi bola-bola kecil. Ada yang menggunakan buah liar berukuran kecil, dan lain-lain.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=23&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pletokan atau peletokan, dikenal juga dengan nama celetok, dan di daerah Sunda disebut dengan Bebeletokan (beubeuleutokan). Mainan ini seperti tembakan yang terbuat dari bambu dengan menggunakan bermacam-macam peluru. Ada yang menggunakan kertas koran basah yang dibuat menjadi bola-bola kecil. Ada yang menggunakan buah liar berukuran kecil, dan lain-lain.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=23&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/pletokan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fdc131e7a4dcd09e7d106a1c42d61fc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahsainsilma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mohamad Zaini Alif : Merevitalisasi Mainan Rakyat</title>
		<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/mohamad-zaini-alif-merevitalisasi-mainan-rakyat/</link>
		<comments>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/mohamad-zaini-alif-merevitalisasi-mainan-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 02:51:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rumah Sains ilma</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel dan fitur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/mohamad-zaini-alif-merevitalisasi-mainan-rakyat/</guid>
		<description><![CDATA[BERMAIN adalah hal menyenangkan. Namun, bermain juga mengandung nilai-nilai untuk menghargai sebuah proses atau usaha. Kawan Kampus pernah mendengar tentang kolecer, dan karinding? Jika kawan tinggal di wilayah etnis Sunda, bisa jadi pernah mendengar atau mungkin memainkannya. Nama-nama itu sebenarnya nama mainan yang dimainkan masyarakat Sunda. Kolecer merupakan mainan anak berupa batangan bambu berbentuk seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=22&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Times New Roman"><font size="3"><br />
</font></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><font size="7">            </font></font></p>
<blockquote><p> <font face="Times New Roman">              </font></p>
<p align="left"><font face="Times New Roman"><em>BERMAIN adalah hal menyenangkan. Namun, bermain juga mengandung               nilai-nilai untuk menghargai sebuah proses atau usaha.</em></font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font></p></blockquote>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Kawan <em>Kampus</em> pernah             mendengar tentang <em>kolecer</em>, dan <em>karinding</em>? Jika kawan tinggal di wilayah             etnis Sunda, bisa jadi pernah mendengar atau mungkin memainkannya. Nama-nama itu             sebenarnya nama mainan yang dimainkan masyarakat Sunda. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman"><em>Kolecer</em> merupakan mainan anak berupa batangan bambu berbentuk seperti huruf             &#8220;T&#8221;. Bagian horizontalnya akan berputar jika tertiup angin. Anak-anak memainkan             mainan ini jika telah mengetahui angin mulai kencang. Siapa yang putarannya paling             kencang, biasanya disebut paling bagus. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman"><em>Karinding</em> merupakan benda yang bisa mengeluarkan bunyi rendah. Mainan ini dibuat             dari sembilu bambu atau pelepah dahan enau yang berbentuk persegi panjang. Bagian             tengahnya diraut lantas dibuat lubang di bagian permukaannya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Cara memainkannya dengan cara diletakkan di mulut dan dipukul salah satu bagian             ujungnya. Bagian yang diraut dan berlubang itu akan mengeluarkan bunyi. Bunyi yang baik             jika pemainnya bisa mengatur udara yang keluar dari rongga mulutnya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Mainan ini biasanya dimainkan saatmengelilingi huma untuk mengusir hama padi sejenis             hama <em>gaang</em>. Namun, pada remaja, bunyi <em>karinding</em> dipakai untuk menarik             perhatian lawan jenis. Dan, pada saat sekarang <em>karinding</em> dipakai sebagai bagian             alat musik dalam pertunjukan. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Nama-nama itu seperti tenggelam. Perkembangan teknologi dan informasi telah mengubah             bentuk dan material mainan. Jika kita memerhatikan produk mainan di toko, isinya lebih             banyak robot-robotan, mobil-mobilan, <em>puzzle</em>, dan piringan cakram <em>video game</em>.             </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Akan tetapi, di tangan Mohamad Zaini Alif (32), mainan-mainan rakyat Sunda itu             direvitalisasi dan dikumpulkan. Staf pengajar Desain Produk Institut Teknologi Nasional             (Itenas) ini telah mengumpulkan 120 jenis mainan rakyat Sunda, yang tersebar di bagian             selatan Jawa Barat. Jebolan program pascasarjana, Jurusan Desain Produk Institut Teknologi             Bandung (ITB) pada tahun 2003 itu, mengaku belum sampai merambah ke daerah utara. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Usai menyelesaikan pendidikannya di ITB, ia menetapkan diri sebagai peneliti mainan dan             permainan rakyat. Lantas lelaki dari Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang,             Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini mendirikan Komunitas Hong di kampungnya. Komunitas ini             mengkaji mainan dan permainan rakyat di wilayah Sunda.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Ditemui di kediamannya yang bergaya minimalis di Dago Pakar Utara No. 35, Kota Bandung,             Zaini menjelaskan tentang mainan rakyat Sunda. Berikut wawancara <em>Kampus</em> dengan             suami dari Mia Rosmiati ini, Minggu (22/7).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman"><em>Bagaimana terbentuknya mainan dalam masyarakat Sunda?</em></font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Pola kehidupan masyarakat yang beragam mendorong terciptanya mainan dan permainan yang             sesuai dengan alam dan lingkungan tempat tinggalnya. Karakter kehidupan orang Sunda adalah             berladang atau huma. Orang yang pergi ke ladang terkadang sendirian sehingga mereka             membuat benda-benda yang bisa menghibur dirinya sendiri. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman"><em>Apa perbedaan antara mainan dan permainan?</em></font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Mainan dengan permainan memang berbeda. Mainan adalah benda yang dibuat untuk             menyenangkan dirinya, sedangkan permainan adalah sebuah sistem aturan yang dilakukan             berkelompok. Biasanya dalam permainan ada aturan kalah dan menang.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Sebagaiman karakter berladang sehingga membutuhkan sesuatu untuk menemaninya selama             bekerja. Sementara itu karakter orang yang pergi ke sawah biasanya lebih berkelompok. Dari             pertemuan-pertemuan orang di sawah itu lantas diciptakan permainan untuk menghibur diri.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman"><em>Apakah ada ciri khusus mainan yang ada di wilayah Sunda?</em></font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Mainan yang ada di wilayah Sunda lebih dominan menghasilkan suara. Suara adalah media             yanng menyenangkan dan bisa mengisi waktu di kala senggang. Misalnya, fungsi <em>karinding</em>             yang bisa dipakai untuk mengusir hama sekaligus untuk menemani di waktu sepi. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Cara memainkannya bisa dipukul, ditiup, digoyangkan, dibanting, diputar, atau             menggunakan media lain misalnya angin, air, atau udara. Contohnya, <em>kolecer</em> adalah             mainan yang menggunakan media angin. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Ciri lainnya berupa peniruan dari benda, binatang, atau perkakas. Misalnya, kekerisan,             dan gogolekan. Nama-nama mainan juga kadang diambil dari suara yang dihasilkan bentuk yang             mereka buat. Misalnya, mendengar celetok, maka benda itu disebut bebeletokan. Lalu             materialnya. Di masa silam, mainan menggunakan bahan yang dihasilkan alam. Misalnya,             membuat bola dari pelepah pisang dan <em>karinding</em> dari sembilu bambu atau pelepah             dahan enau.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman"><em>Apakah ada perbedaan fungsi mainan rakyat dan mainan zaman sekarang?</em></font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Mainan merupakan media pola asuh anak. Fungsinya bisa untuk perkembangan motorik dan             kreativitas. Namun, ada perbedaan antara fungsi bermain mainan rakyat dan mainan zaman             sekarang. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Pada mainan rakyat, fungsi bermain bukan hanya saat mainan itu dimainkan. Akan tetapi,             proses pembuatan juga bagian dari bermain. Di awal saya mengatakan, bahwa orang Sunda             sering pergi sendiri ke ladang. Ia buat sendiri dengan bahan-bahan yang didapatkan di             perjalanannya. Kebiasaan ini bermakna bahwa orang senantiasa mendahului proses ketimbang             hasil sehingga ia akan menjadi pekerja keras di masa datang. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Orang di kampung adat tidak asal mengambil bambu. Mereka tahu, kapan waktu yang tepat             untuk mendapatkan kualitas bambu yang bagus untuk bunyi. Mereka mengambilnya saat masuk             masa hujan silantang, yakni musim kemarau tapi banyak suara gemuruh guntur seperi mau             hujan. Masa ini terjadi lima tahun sekali. Ini mengajarkan orang untuk peka terhadap             alamnya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Pada zaman sekarang, fungsi bermain adalah memainkan saja. Tidak ada proses yang             dilakukan si anak untuk menciptakan mainannya sendiri. Semuanya sudah disediakan dan bisa             dibeli dengan harga tertentu. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman"><em>Kang Zaini sudah sering memamerkan mainan rakyat ini. Lantas apakah mainan ini sudah             disebut kuno?</em></font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Di tiap <em>event</em> pameran anak-anak TK dan SD tidak menyebut kuno. Malah menyebutnya             sebagai mainan baru. Karena mereka tidak dikenalkan pada hal ini. Mungkin karena kita dulu             pernah melihat dan memainkannya sehingga bisa menyebut kuno. Bisa disebut kuno kalau orang             tuanya telanjur mengatakan benda ini kuno dibandingkan dengan mainan dari barat. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman"><em>Kalau begitu andai makin banyak orang menyebut kuno, mainan ini akan menjadi             artefak?</em></font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Bisa menjadi artefak karena alasan-alasan lain juga. Misalnya, sekarang anak ingin             membuat kelom batok. akan tetapi, ternyata susah mencari batok kelapanya karena sudah             menjadi bahan arang di pasar atau karena pohon kelapa sulit dicari di kota. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Sebenarnya orang tua dan pengajar di TK bisa memulai mengenalkan mainan itu dari bahan             yang telah disediakan alam. Misalnya, memperkenalkan kepekaan rasa kepada anak-anak dengan             media yang ada alam sekitar. Bahan yang halus dan kasar banyak tersedia sehingga tidak             perlu beli barang mahal. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Mainan rakyat mungkin bisa menjadi artefak. Namun, poin untuk mengembangkan budaya             bermain dan mainan seperti pada esensi bermain dalam mainan rakyat adalah penting. Poin             pentingnya itu adalah mengajak untuk berproses bukan menyediakan hasil yang sudah ada.             Jadi, bagaimana orang tua mengajarkan mainan itu tidak harus membeli atau menyadap dari             bentuk mainan yang ada dari barat. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman"><em>Omong-omong, target apa yang hendak Kang Zaini capai?</em></font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Masih ada mainan rakyat Sunda yang belum saya kumpulkan. Setelah terkumpul semua, saya             memiliki target untuk mendirikan perkumpulan yang sama seperti Hong di tiap provinsi. Hal             ini agar setiap provinsi memiliki mainan rakyat yang bisa ditonjolkan di negeri ini.***</font></p>
<p>sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/072007/26/kampus/obrolan.htm</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=22&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/mohamad-zaini-alif-merevitalisasi-mainan-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fdc131e7a4dcd09e7d106a1c42d61fc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahsainsilma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mainan dan Permainan Tradisional: Ke Arah Peluang Pengembangannya</title>
		<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/mainan-dan-permainan-tradisional-ke-arah-peluang-pengembangannya/</link>
		<comments>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/mainan-dan-permainan-tradisional-ke-arah-peluang-pengembangannya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 01:07:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rumah Sains ilma</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel dan fitur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/mainan-dan-permainan-tradisional-ke-arah-peluang-pengembangannya/</guid>
		<description><![CDATA[  Mainan adalah benda-benda yang dibuat main seperti boneka, kereta-keretaan, dan lainnya. Sedangkan kata permainan adalah pola tindakan bermain yang mengandung aturan tertentu, biasanya mengandung unsur kompetisi, kontes, atau pertandingan. Sudah barang tentu permainan itu membutuhkan alat-alat tertentu berupa benda yang disiapkan terlebih dahulu.    Dalam mengembangkan mainan dna permainan khas Indonesia, diperlukan upaya menggali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=21&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Mainan adalah benda-benda yang dibuat main seperti boneka, kereta-keretaan, dan lainnya. Sedangkan kata permainan adalah pola tindakan bermain yang mengandung aturan tertentu, biasanya mengandung unsur kompetisi, kontes, atau pertandingan. Sudah barang tentu permainan itu membutuhkan alat-alat tertentu berupa benda yang disiapkan terlebih dahulu.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dalam mengembangkan mainan dna permainan khas Indonesia, diperlukan upaya menggali mainan atau permainan warisan budaya dari berbagai suku yang ada. Dalam suatu literatur, terdapat sejumah jenis permainan yang dikategorikan beberapa jenis. Misalnya ketahanan raga yang dicontohkan melalui &#8220;adu tubuh&#8221; atau menggunakan alat yang disiapkan, baik dari kayu, rotan, dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kelompok permainan lain bersifat balapan dengan variasinya. Seperti menggunakan kaki, kaki plus alat tertentu (enggrang dan batok kelapa) atau bahkan yang menggunakan binatang atau suatu jenis &#8220;kendaraan&#8221;. Kita bisa lihat pada Karapan Sapi di Madura dan balapan berkuda di NTT.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Selain itu, terdapat juga jenis sabung dan pertandingan dengan alat-alat yang dapat digunakan berupa bola, galah, batu, dna lainnya. Sejumlah permainan tersebut sering pula digolongkan jenis olah raga tradisional.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sepak takraw misalnya yang kini sudah diangkat menjadi salah satu cabang olah raga resmi dengan aturan bakunya, tanpa harus meninggalkan kekhasan tradisi atau alirannya seperti pada pencak silat.</p>
<p class="MsoNormal">Bahan Baku</p>
<p class="MsoNormal"><span>  </span>Dalam banyak contoh permainan, bahan-bahan yang dipakai untuk bermain didapat dari bahan-bahan alami yang ada di sekitar hunian atau tinggal memungut saja. Bisa berupa daun, buah, kayu, bambu, tempurung kelapa, dan lainnya. Namun demikian, masalah timbul di saat sumber daya genetik itu ternyata sudah tidak ada atau tidak dilestarikan.</p>
<p class="MsoNormal">Contohnya permainan sumbar suru pada anak-anak Jawa, khususnya anak perempuan. Saat ini konon sudah tidak dikenal lagi di Surakarta.</p>
<p class="MsoNormal">Pohon sawo kecik, di mana biji dari buahnya dipakai untuk permainan itu sekarang sudah susah untuk dijumpai. para penjual di pasar juga sudah tidak lagi berjualan sawo kecik.</p>
<p class="MsoNormal">Selain itu, juga masalah tempurung kelapa yang dulu tidak digunakan setelah dagingnya diolah. Seiring dengan perkembangan, kini batok kelapa justru dapat digunakan sebagai produk kerajinan dan bernilai seni tinggi. Jadi tidak hanya sekadar untuk alat permainan saja.</p>
<p class="MsoNormal">LapanganKalau seluruh pihak terkait berniat untuk tetap menghidupkan berbagai mainan dan permainan tradisional, maka perlu disertai upaya meyakinkan para perancang tata ruang perkotaan dan perdesaan untuk senantiasa menyediakan ruang nyata untuk itu.</p>
<p class="MsoNormal">Juga perlu diciptakan suatu lapangan usaha untuk memproduksi mainan-mainan maupun alat permainan yang bersumber dari tradisi berbagai suku bangsa di Indonesia, sehingga dapat dikonsumsi lintas budaya.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi upaya pelestarian mainan dan permainan tradisional itu harus dilandasi strategi penciptaan kesadaran budaya, karena tidak akan pernah terjadi dengan sendirinya. Dalam hal ini, sinergi antara dunia industri dan media massa harus tercipta dengan berbekal wawasan budaya yang cukup.</p>
<p class="MsoNormal">Selain itu, disisakan juga ruang untuk anak-anak dan remaja merancang dan membuat sendiri alat-alat bermainnya. peluang kreatif dalam dunia bermain itu merupakan sesuatu wadah yang tidak akan ada habisnya dan akan terus berkembang. (Andrian Novery)</p>
<p class="MsoNormal">sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=187978</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=21&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/mainan-dan-permainan-tradisional-ke-arah-peluang-pengembangannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fdc131e7a4dcd09e7d106a1c42d61fc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahsainsilma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lincah Dan Cekatan Berkat Permainan Tradisional</title>
		<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/lincah-dan-cekatan-berkat-permainan-tradisional/</link>
		<comments>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/lincah-dan-cekatan-berkat-permainan-tradisional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 00:53:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rumah Sains ilma</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel dan fitur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/lincah-dan-cekatan-berkat-permainan-tradisional/</guid>
		<description><![CDATA[Harus diakui, seiring dengan majunya teknologi, anak-anak yang tinggal di kota-kota besar semakin asing dengan permainan tradisional yang sebetulnya banyak bermuatan rangsangan positif. Bila keadaan ini terus berlanjut, menurut Dra. Mayke S. Tedjasaputra, MSi, besar kemungkinan permainan-permainan tradisional itu kelak tak lagi dikenal, apalagi dimainkan oleh anak-anak. Hal ini tentu tidak terjadi begitu saja, karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=20&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Harus diakui, seiring dengan majunya teknologi, anak-anak yang tinggal di kota-kota besar semakin asing dengan permainan tradisional yang sebetulnya banyak bermuatan rangsangan positif. Bila keadaan ini terus berlanjut, menurut Dra. Mayke S. Tedjasaputra, MSi, besar kemungkinan permainan-permainan tradisional itu kelak tak lagi dikenal, apalagi dimainkan oleh anak-anak.</p>
<p class="MsoNormal">Hal ini tentu tidak terjadi begitu saja, karena biasanya orang tualah yang lupa memperkenalkan permainan di masa kecilnya kepada anak-anak. &#8220;Sebaliknya, suatu permainan akan terus bertahan jika kita menurunkannya secara estafet ke anak kita, lalu dari anak kita diturunkan lagi ke cucu kita, dan selanjutnya.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Mayke juga mengingatkan, imbas permainan modern yang mengandalkan aneka bentuk dan jenis menarik bukan satu-satunya faktor yang mengalahkan pamor permainan tradisional. Jangan lupa, makin sempitnya areal atau lahan tempat anak bermain di alam bebas, serta makin sibuknya anak dalam aktivitas sehari-hari juga membuat permainan tradisional ini makin terlupakan.</p>
<p class="MsoNormal">Ditambah lagi, stimulus yang anak dapatkan setiap waktu selalu bernuansa modern, seperti pergi ke mal, makan di resto yang menyediakan menu modern, atau belajar dengan memakai sarana komputer. Tak heran bila anak-anak kita, apalagi cucu-cucu kita nanti semakin miskin dalam pengalamannya bermain permaianan tradisional.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><strong>ANEKA MANFAAT</strong></p>
<p class="MsoNormal">Menurut Mayke, permainan modern bisa dengan mudah menggusur permainan tradisional karena bentuknya yang variatif, begitu pula warna dan jenis permainannya. Mendapatkannya juga mudah, bisa dimainkan di mana saja, bisa dilakukan kapan saja (jenis indoor), dan walaupun tanpa teman anak bisa memainkannya dengan seru.</p>
<p class="MsoNormal">Sementara, hampir semua permainan tradisional harus dilakukan dengan teman, membutuhkan ruang terbuka (outdoor), dan kebanyakan harus dimainkan di arena yang cukup luas. Anak-anak kadang juga harus berusaha dulu sebelum bisa melakukan salah satu permainannya, seperti membuat gambar atau membuat alatnya. Variasi untuk satu jenis mainan pun tidak banyak; penampilannya juga tak semenarik permainan modern.</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Walaupun begitu, permainan seperti engklek, yoyo, congklak, dan petak umpet sebetulnya bisa juga dimainkan di dalam ruangan. Jadi, permainan tradisional pun sebetulnya bersifat fleksibel atau bisa dimainkan di mana saja. Galah asin, misalnya, meskipun lebih seru dimainkan di luar ruang, tapi kalau situasi tidak memungkinkan, bisa saja dimainkan di dalam ruang. Hanya saja tempatnya harus luas, di lapangan bulu tangkis atau aula, misalnya,&#8221; urai Mayke.</p>
<p class="MsoNormal">Karena permainan tradisional umumnya dilakukan berkelompok, maka permainan ini otomatis mengajarkan kebersamaan, seperti dalam gobak sodor atau engklek. Beda dengan permainan berteknologi canggih yang umumnya dimainkan secara individual. &#8220;Memang, sih, ada juga permainan tradisional yang bisa dimainkan secara soliter selain bersama teman-teman, seperti yoyo, layang-layang, dan ketapel.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Selain itu, permainan tradisional juga mengajarkan sportivitas dan aturan main yang disepakati bersama. Dengan gerakan-gerakan seperti berlari, berkelit, melompat, atau menaikturunkan tangan, fisik anak pun dilatih secara aktif. Jadi, dengan bermain permainan tradisional anak bisa mengasah kemampuan motorik, baik kasar maupun halus, serta gerak refleksnya.</p>
<p class="MsoNormal">Contoh sederhananya, dalam permainan galah asin, selain gerakan motorik, anak juga dilatih bersikap cekatan, berkonsentrasi, dan melihat peluang degan cepat untuk mengambil keputusan terbaik agar bisa menangkap lawan. Permainan seperti congklak, bahkan merangsang anak menggunakan strategi. Anak harus pandai menentukan poin atau biji di lubang mana yang harus diambil terlebih dahulu agar bisa mengumpulkan biji lebih banyak dari lawan.</p>
<p class="MsoNormal">Melihat manfaat-manfaat di atas, menurut Mayke, sebenarnya permainan tradisional ini penting dilakukan oleh anak-anak zaman sekarang. Selain untuk memperoleh manfaat yang tidak bisa didapat dari permainan modern, juga untuk mendapatkan wacana lain yang bisa membuat hidup anak lebih kaya dan berdinamika. &#8220;Terlebih, keterampilan fisik mempunyai kaitan erat dengan bekerjanya fungsi-fungsi saraf,&#8221; papar Mayke.</p>
<p class="MsoNormal">Hanya saja, kalau ditanya, permainan mana yang paling baik buat anak, yang tradisional atau yang modern? Menurut Mayke, tidak ada yang lebih baik ataupun lebih jelek. Ia berpendapat antara permainan tradisional dengan permainan modern punya manfaat yang saling melengkapi. Dari permainan modern, anak-anak bisa mendapat rangsangan yang bersifat kognitif, sedangkan yang bersifat fisik, kebersamaan, dan ketangkasan bisa diperoleh dari permainan tradisional.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><strong>BERI CONTOH LEBIH DAHULU</strong></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Sebenarnya tak sulit memperkenalkan permainan tradisional itu. Mayke menyarankan, &#8220;Ajak anak dan teman-temannya melakukan salah satu permainan, lalu beri contoh cara memainkannya. Terangkan kepada mereka bahwa permainan itu tidak kalah seru dari permainan yang menggunakan baterai, tombol atau monitor. Beri tahu juga bahwa kita dulu sering melakukan permainan tersebut setiap hari. Tak ada salahnya, kita ajak anak untuk membuat terlebih dahulu alat permainannya, misal, membuat ketapel, gasing, ataupun gatrik. Jika memungkinkan, boleh saja kita beritahu trik-trik jitu dalam melakukan permainan tersebut.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Jelaskan kepada anak bahwa stok permainan tradisional sangat banyak, sehingga mereka tak bakalan kehabisan. &#8220;Boleh dibilang, Indonesia ini sangat kaya akan permainan tradisional. Dari Sabang sampai Merauke mempunyai permainan tradisional khas daerahnya masing-masing,&#8221; ungkap Mayke.</p>
<p class="MsoNormal">Uniknya lagi, permainan tradisional Indonesia mempunyai waktu main tertentu, ada yang hanya bisa dilakukan di sore hari, siang hari, atau malam hari. Contoh, permainan Gatok dari Aceh yang menggunakan biji pinang dan tangan sebagai pelenting buah pinang, akan seru jika dilakukan di sore hari. Sementara permainan Nsya Asya/Tok Asya dari Papua, atau balapan menggelindingkan rotan yang dibentuk seperti ban, biasanya dilakukan pagi hari. Satu lagi, permainan oray-orayan dari Jawa Barat paling seru jika dimainkan kala terang bulan.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05223-01.htm</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=20&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/18/lincah-dan-cekatan-berkat-permainan-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fdc131e7a4dcd09e7d106a1c42d61fc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahsainsilma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jejak Rekonstruksi Mainan Tradisional</title>
		<link>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/17/jejak-rekonstruksi-mainan-tradisional/</link>
		<comments>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/17/jejak-rekonstruksi-mainan-tradisional/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 17:19:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rumah Sains ilma</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/17/jejak-rekonstruksi-mainan-tradisional/</guid>
		<description><![CDATA[Sebutan jajangkung (egrang), kolecer (kincir angin), keprak, hatong, celempung, karinding, dan sebagainya, kini sudah jarang didengar telinga. Nama-nama tersebut adalah sebutan untuk kaulinan barudak (permainan anak) tradisional Jawa Barat (Jabar) Sebagian kecil permainan anak tersebut masih hidup di daerah pedesaan di wilayah selatan Jabar. Dengan merekonstruksi naskah kuno Jabar abad ke-15, Saweka Darma Sanghyang Siksakandang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=19&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font> Sebutan jajangkung (egrang), kolecer (kincir angin), keprak, hatong, celempung, karinding, dan sebagainya, kini sudah jarang didengar telinga. Nama-nama tersebut adalah sebutan untuk <em>kaulinan barudak</em> (permainan anak) tradisional Jawa Barat (Jabar)</p>
<p>Sebagian kecil permainan anak tersebut masih hidup di daerah pedesaan di wilayah selatan Jabar. Dengan merekonstruksi naskah kuno Jabar abad ke-15, Saweka Darma Sanghyang Siksakandang Karesian serta berkeliling ke daerah selatan Jabar, pemerhati mainan tradisional Sunda, Mohammad Zaini Alif, berhasil merekonstruksi 168 jenis <em>kaulinan barudak</em>. Jika penelitian itu dijalankan hingga wilayah utara Jabar, ia memperkirakan bisa menggambarkan kembali 250 jenis mainan tradisional di Jabar.</p>
<p>Namun, hingga kini berbagai permainan tradisional itu belum mendapatkan hak paten. Padahal, <em>data base</em> berikut sejarah tentang <em>kaulinan barudak</em> tradisional ini sudah lengkap dan tersusun rapi dari hasil penelitian Zaini selama 15 tahun. Beberapa orang yang peduli pada permainan rakyat ini menyarankan untuk mengurus hak paten karena biayanya murah. Mereka mengatakan untuk mengurus satu hak paten perlu dana Rp 300 ribu. Namun, biaya sebanyak itu tak terjangkau Zaini. &#8221;Uang Rp 300 ribu dikalikan 168 mainan bukan uang yang sedikit buat saya,&#8221; ujar dia.</p>
<p>Selama ini, tutur Zaini, ia melakukan penelitian karena ingin membantu pemerintah melestarikan budaya tradisional. Ia mengaku tidak pernah memikirkan macam-macam termasuk hak cipta. Yang penting bagi dia adalah masyarakat tahu akar budayanya dan mampu melestarikannya. Namun, perhatian maupun kepedulian pemerintah untuk mengurus 168 jenis permainan anak Jabar ini tidak dirasakannya.</p>
<p>Rekonstruksi mainan tradisional ini juga dilakukan karena terdorong kebiasaannya bermain di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kec Tanjung Siang, Kab Subang, Jabar. Untuk memelihara minatnya terhadap mainan tradisional, setelah lulus dari SMAN 2 Kota Bandung, Zaini sengaja melanjutkan kuliah di Jurusan Desain Produk, Institut Teknologi Nasional (Itenas). Sambil kuliah, pada 1996 ia mulai mendesain dan membuat mainan edukasi dari sendal jepit. Ia membuat berbagai mainan pengasah kreativitas dan kemampuan motorik anak.</p>
<p>Namun, Zaini tidak puas. Waktu itu, ia mulai mengenang berbagai jenis mainan tradisional yang dimainkannya di kampung. Ia pun mulai bertualang terutama ke kampung-kampung adat di Jabar selatan untuk mencatat jenis-jenis permainan tradisional. Keinginannya untuk memperdalam mainan tradisional membawanya ke pendidikan Pascasarjana Desain Produk, Institut Teknologi Bandung (ITB).</p>
<p>Saat mengajukan rencana penelitian tentang permainan tradisional, pembimbingnya menyarankan untuk menggantinya karena tidak ada naskah acuan. Saran itu tak dihiraukannya. Ia keluar masuk museum dan perpustakaan untuk menemukan naskah kuno tentang mainan tradisional masyarakat Sunda hingga akhirnya ia menemukan naskah kuno abad ke-15 tersebut.</p>
<p>Pada Pameran Pekan Produk Indonesia di Jakarta, Agustus 2007 silam, ia bertemu dengan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Ibu Ani Yudhoyono. Saat itu, Ibu Ani sangat antusias menceritakan bahwa semasa kecil ia pernah bermain sejumlah permainan rakyat. Sedangkan Presiden sendiri hanya berkata &#8216;berjuang terus&#8217;.</p>
<p>Meski berbagai jenis permainan ini berada di Jabar, Zaini mengaku baru satu kali bertemu dengan Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar, I Budhyana. Dalam pertemuan itu, Kadisbudpar begitu antusias dan berkata temuan tersebut merupakan impiannya. Namun, setelah pertemuan itu tak pernah ada kabar lanjutan.</p>
<p>Begitupun dengan Menteri Budaya dan Pariwisata, Jero Wacik, pernah ditemuinya. Namun, dari pertemuan-pertemuan tersebut memperlihatkan pemerintah tidak peduli pada permainan tradisional. &#8221;Pemerintah kita senang dengan sesuatu yang sudah besar, tapi tidak mau menggosok batu menjadi intan,&#8221; katanya menjelaskan.</p>
<p>Pemerintah, menurut Zaini, baru akan sadar jika hampir kehilangan, seperti angklung dan reog Ponorogo. Bahkan, beberapa waktu lalu, ia melihat permainan rorodaan dipajang di museum Harvard. Perbedaan dengan rorodaan Sunda hanya pada kaki roda tersebut. Pajangan di museum tersebut menggunakan tanah liat, sedangkan rorodaan di Jabar menggunakan bambu.</p>
<p>Dikatakan Zaini, mainan tradisional Jabar dengan daerah lain pada umumnya dibedakan oleh materialnya. Untuk itu, negara lain bisa dengan mudah untuk mengklaim permainan tradisional Jabar ataupun Indonesia itu menjadi permainan negaranya. &#8221;Namun, <em>boro-boro</em> mau mengurus masalah hak paten permainan anak tradisional, perhatian dan kepedulian pun tidak ada sama sekali,&#8221; kata dia menjelaskan. Selain rorodaan, permainan congklak kini juga sudah berada di banyak negara di dunia.</p>
<p>Begitupun permainan ngagondang atau main lisung sudah dianggap sebagai permainan tradisional masyarakat Karanganyar, Jateng. &#8221;Padahal sudah jelas, permainan ngagondang yang menggunakan lisung merupakan asli permainan tradisional masyarakat Sunda yang merupakan masyarakat huma,&#8221; ujar dia.</p>
<p>Zaini mengaku yakin, bangsa Indonesia akan kehilangan jati dirinya, apabila masyarakat dan pemerintah sudah tidak peduli lagi pada budaya tradisional termasuk permianan tradisional anak. Karena bagaimanapun, permainan tradisional anak ini bisa membentuk watak anak menjadi kreatif, inovatif, berjiwa sosial, berbudaya, berahlak dan beriman, berbeda dengan mainan modern. ren</p>
<p>( )</p>
<p>sumber : http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=316914&amp;kat_id=3</p>
<p></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mainantempodoeloe.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mainantempodoeloe.wordpress.com&amp;blog=2340337&amp;post=19&amp;subd=mainantempodoeloe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mainantempodoeloe.wordpress.com/2007/12/17/jejak-rekonstruksi-mainan-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fdc131e7a4dcd09e7d106a1c42d61fc?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumahsainsilma</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
