Feeds:
Posts
Comments

Hong, Mari Bermain

Ada makna pertemuan antara manusia dan Tuhan di antara mainan itu.

Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=317702&kat_id=460

Di suatu Subuh, bayangan rembulan masih terlihat saat seorang lelaki yang menginjak remaja, Mohamad Zaini Alif, berjalan kaki menuju sekolahnya di SMPN 1 Tanjungsiang, Kabupaten Subang. Napasnya sedikit terengah, karena ia harus menempuh perjalanan sejauh lima km atau 1,5 jam berjalan kaki. Namun, pemandangan pepohonan karet dan kluwak di kebun sepanjang perjalanan serta embun pagi membuatnya selalu segar dan tidak lelah.

Waktu yang ditunggunya adalah saat pulang sekolah. Ia bersama teman-temannya mencari biji pepohonan karet dan kluwak untuk dibuat kerkeran, mainan seperti kipas angin. Baling-balingnya terbuat dari bambu dengan penyangga dari biji karet, kluwak, atau batok kelapa. Bagi anak kampung seperti dirinya, mainan buatan sendiri adalah bagian indah dari hidup yang terbawa hingga dewasa.

Lelaki kelahiran Cibuluh, Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang, Jawa Barat ini memainkan berbagai jenis permainan di antaranya kolecer (sejenis kipas angin yang dipancang di sawah atau huma) dan karinding (alat tiup dari batang bambu yang disobek tengahnya) untuk mengusir binatang hama padi seperti serangga dan burung. Ia juga membuat wayang golek dari batang daun singkong yang mengering.

Kecintaan kepada mainan tradisional asli Sunda membawa pria yang kini berusia 32 tahun itu menempuh pendidikan di Desain Produk Institut Teknologi Nasional (Itenas) dan ITB untuk meraih gelar S1 dan S2. Sejak 1996 ia mulai melakukan penelitian tentang mainan tradisional. Tak mudah melakukan penelitian itu karena sumbernya sangat sedikit.

Lantaran penelitian permainan Sunda dan berniat untuk melestarikan, ia pun mendirikan komunitas Hong. Inilah komunitas yang merupakan pusat kajian mainan rakyat yang didirikan pada 2003. Komunitas yang bertekad melestarikan mainan dan permainan rakyat ini melakukan penelitian mainan sejak 1996.

Tak hanya menjadi tempat berkumpul, komunitas ini juga menjadi wadah pencinta, peneliti, dan produsen mainan anak. ‘Hong’ sendiri adalah kata yang diteriakkan anak-anak Sunda saat bertemu teman. ”Hong juga berarti pertemuan dengan Yang Maha Kuasa,” ungkap lelaki kelahiran Subang, 9 Mei 1975, itu.

Komunitas ini terdiri dari 150 anggota yang berasal dari masyarakat dari berbagai usia mulai dari 6-90 tahun. Kelompok anak adalah pelaku dalam permainan, sedangkan untuk anggota dewasa adalah nara sumber dan pembuat mainan. Komunitas Hong terus menggali dan merekonstruksi mainan rakyat baik itu dari tradisi lisan berupa naskah-naskah kuno. Mereka juga berusaha memperkenalkan mainan rakyat dengan tujuan menanamkan sebuah pola pendidikan masyarakat buhun masyarakat yang memegang adat istiadat Parahyangan (Sunda) agar seorang anak mengenal diri, lingkungannya, dan Tuhan.

Rekonstruksi ulang

Dari hasil penelitian Zaini, komunitas Hong lantas merekonstruksi ulang 168 jenis mainan yang berasal dari daerah Jabar Selatan dan daerah tengah Jabar. Komunitas ini mempunyai cita-cita untuk meneliti di seluruh provinsi atau setidaknya Jabar daerah utara. ”Saya memprediksi ada sekitar 250 jenis mainan tradisional Jabar,” ungkap dosen desain dan kebudayaan Itenas ini.

Dalam kesehariannya, komunitas Hong mempunyai agenda kegiatan rutin ataupun kegiatan besar. ”Kami sering bermain bersama sehabis pulang sekolah di ladang, sungai, dan jenis permainannya pun berbeda tergantung musim,” ungkap Zaini. Kegiatan besarnya adalah pembuatan kampung ‘kolecer’ (workshop), tempat melatih mainan dan permainan rakyat yang ada di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kec Tanjungsiang, Subang.

Rupanya, kegiatan itu tak hanya berakhir pada sebuah kegiatan yang menyenangkan saja. Mainan-mainan itu pun dapat diolah menjadi cendera mata yang mendatangkan uang. Uang itu kemudian digunakan untuk kelanjutan sekolah anak-anak di desanya. ”Sesudah main, biasanya mereka kumpulkan lalu menjualnya. Lumayan bisa buat tambahan uang sekolah dan memberi pada orangtua,” kata Zaini.

Lewat divisi dana dan usaha di kampung ‘kolecer’, uang tersebut disalurkan dalam bentuk beasiswa untuk anak-anak. Asep adalah salah satu anggota komunitas ini yang sudah ‘menikmati’ beasiswa itu. Berkat uang itu, dia dapat melanjutkan sekolahnya. Selain itu, ”Saya juga senang karena bisa belajar, bermain, dan menghasilkan uang sekaligus.”ren

Belajar Hidup Lewat Mainan

Dulu, mainan sudah jadi hal yang amat penting sehingga ada ahlinya. ”Ketika itu mainan bukan hal sepele atau sekadar main-main. Justru dari mainan orang belajar bersosialisasi, mengatasi kesepian, mengatur keseimbangan otak, bekerja sama, serta mengenal lingkungan,” ujar pendiri komunitas Hong, Muhammad Zaini Alif.

Seperti di daerah Jabar Selatan, orangtua memangku anaknya untuk bermain surser dengan menggerakkan tangan anak bergantian ke lutut kanan dan kiri orangtuanya untuk melatih koordinasi otak kiri dan kanan serta mendekatkan hubungan keduanya.

Anak-anak bermain jajangkung (egrang) untuk melatih keseimbangan; mengusir sepi dengan memainkan keprak (batang bambu yang dibelah salah satu ujungnya menjadi lengkungan;, hatong (batang bambu yang disobek dan dilubangi), atau celempung (bambu yang dilubangi dan dipukul).

Bagi Zaini, inilah perbedaan besar antara permainan masa kini dan mainan tradisional. Tak cuma melatih otak, permainan tradisional juga melatih rasa. Hal itulah yang tidak ada dalam permainan modern. ”Permainan sekarang banyak yang dibuat untuk melatih kreativitas. Namun, permainan tradisional diciptakan untuk melatih psikomotorik, pedagogis, psikologis, dan banyak hal yang ada dalam diri manusia,” cetus dia. ren

( )

Dolanan Bocah

SEJAK awal manusia Jawa begitu religius. Apalagi ketika para wali mulai menanamkan pemahaman agamanya. Ini bisa dilihat dari peninggalan masa silam berupa dolanan bocah. Sayang kini tinggal kenangan dan sudah ditanggalkan dan ditinggalkan.
Menurut Babad, Sunan Giri terhitung seorang ahli pendidik di samping pedagang, yang berjiwa demokratis. Beliau mendidik anak-anak dengan jalan membuat bermacam-macam permainan yang berjiwa agama. seperti misalnya : jethungan, jamuran, gendi gerit, jor, gula-ganti, cublak-cublak suweng, ilir-ilir dan sebagainya.

Diantara permainan kanak-kanak gubahannya adalah ”jethungan” atau ”jelungan”. Adapun caranya ; Anak-anak banyak, satu di antaranya menjadi ”pemburu”, lain-lainnya jadi ”buruan” mereka ini akan ‘selamat’ atau ‘bebas’ dari terkaman ‘pemburunya’, apabila telah berpegangan pada ‘jitungan’, yaitu satu pohon, tiang atau tonggak yang telah ditentukan terlebih dahulu.
Permainan ini dimaksudkan untuk mendidik pengertian tentang keselamatan hidup, yaitu : bahwa apabila sudah berpegangan kepada agama yang berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa sajalah, maka manusia (buruan) itu akan selamat dari terkaman iblis (pemburunya).
Di samping itu diajarkannya pula nyanyian-nyanyian untuk kanak-kanak yang bersifat paedagogis serta berjiwa agama, Di antaranya adalah berupa ‘tembang dolanan bocah’, yang berbunyi ;
”Padang-padang bulan, ayo gage da dolanan, dolanane naning latar, ngalap padang gilar-gilar, nendang bagog hangatikar”, yang dalam bahasa Indonesianya kira-kira begini :
”Terang-terang bulan, marilah lekas bermain, bermain dihalaman, mengambil manfaat dari terang benderang, mengusir gelap yang lari terbirit-birit”. Maksud tembang tersebut adalah : Agama Islam (bulan) telah datang memberi penerangan hidup, maka marilah segera orang menuntut penghidupan (dolanan, bermain) di bumi ini (latar, halaman) akan mengambil manfaat ilmu agama Islam (padang, gilar-gilar, terang benderang) itu, agar sesat kebodohan diri (begog, gelap) segera terusir.
Terkenal pula tembang buat kanak-kanak yang bernama ”Ilir-ilir” yang isinya mengandung filsafat serta berjiwa agama.
Maksudnya adalah : sang bayi yang baru lahir di dalam dunia ini masih suci bersih, murni, sehingga ibarat seperti penganten baru, siapa saja ingin memandangnya, ”bocah angon” (penggembala) itu diumpamakan santri, mualim, artinya orang yang menjalankan syariat agama. Sedangkan ”blimbing” diibaratkan blimbing itu mempunyai lima belahannya, maksudnya untuk menjalankan sembahyang lima waktu. Meskipun ”lunyu-lunyu” (licin). tolong panjatkan juga, kendatipun sembahyang itu susah, namun kerjakanlah, buat membasuh ”dodotira-dodotira, kumitir bedah ing pinggir” maksudnya kendatipun sholat itu susah, tetapi kerjakan guna membasuh hati dan jiwa kita yang kotor ini. ”Dondomono, jrumatana, kanggo sebo mengko sore, dan surak-surak hore”. Maksudnya ” bahwa orang hidup di dalam dunia ini senantiasa condong kearah berbuat dosa, segan mengerjakan yang baik dan benar serta utama, sehingga dengan menjalankan sholat itu diharapkan besuk dikelak kemudian dapat kita buat sebagai bekal kita dalam menghadap kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, bekal itu adalah beramal saleh. (SW)

sumber : http://www.kr.co.id/mp/print.php?sid=5935

Orang Jawa mengenal berbagai macam jenis permainan tradisional, yang sekarang tidak lagi ditemukan. Berbagai macam permainan tradisional tersebut memberi ruang ketrampilan bagi pemakainya. Dalam kata lain, permainan tradisional Jawa tidak menempatkan relasinya hanya pasif. Lebih dari itu harus aktif dan kreatif. Sebab, permainan tradisional Jawa memberikan rangsangan kreatif bagi relasinya.

Salah satu jenis permainan tradisional Jawa apa yang dikenal sebagai egrang. Permainan ini mengandaikan pemakai/relasinya lebih tinggi posisinya. Diluar ukuran tinggi manusia. Bahan yang dipakai sebagai egrang adalah bambu, yang dibuat meyerupai tangga, tetapi tangganya hanya satu. Kapan orang memakai egrang kakinya dinaikan di atas satu tangga, atau pustep kalau meminjam istilah sepeda motor, untuk kemudian berjalan. Jadi, pemakai egrang naik diatas bambu yang dibuat sebagai jenis mainan dan kemudian berjalan kaki.

Karena itu, orang yang memakai egrang perlu melewati proses belajar dulu, karena membutuhkan keseimbangan. Kapan keseimbangan tidak terpenuhi orang bisa jatuh dari egrang. Siapapun bisa menggunakan egrang, tidak harus anak-anak, orang dewasapun bisa menggunakannya.

Egrang bentuknya bisa pendek, tetapi bisa pula tinggi. Yang pasti, kapan orang bermain egrang, posisi tubuhnya menjadi jauh lebih tinggi dari tubuh yang sebenarnya. Persis seperti orang berdiri di tangga, atau naik di atas meja.

Namun permainan egrang sekarang tidak lagi mudah ditemukan. Mungkin malah sudah hilang. Atau barangkali, permainan egrang tidak lagi relevan di jaman sekarang. Di tengah anak-anak terbiasa dengan eskalator yang tersedia di mall: hanya berdiri tangga bisa berjalan sendiri. Egrang sepertinya memberikan “rasa susah” dari fasilitas teknologi.

Tampaknya proses membentuk kreativitas telah menemukan formula yang sama sekali lain. Tidak berawal dari kesaadaran dan inisiatif dari dirinya sendiri dan hanya sedikit sekali memerlukan dorongan dari luar seperti egrang. Kreativitas jaman sekarang memerlukan instrumen yang tidak lagi sederhana dan, sulit meninggalkan teknologi.

Karena itu, egrang adalah masa lalu yang sekedar untuk dikenang dan sulit untuk ditemukan. Anak-anak tidak lagi “mengenal” apa itu egrang dan bagaimana bentuknya. Bagaimana pula cara memakainya.

Mungkin, kembali untuk mengenalkan ingatan terhadap permainan tradisional Jawa, egrang dan jenis permainan tradisional lainnya perlu untuk dihadirkan. Bukan yang utama untuk mengembalikan “kisah masa lalu”. Namun lebih untuk memberikan referensi kultural pada anak-anak sekarang yang terbiasa dengan permainan yang serba teknologis.

Dari egrang, barangkali orang bisa menanapki jenis permainan tradisional Jawa lainnya yang sekarang sekedar sebagai kenangan.

Ons Untoro

sumber : http://www.tembi.org/cover/20060319.htm

TIGA orang anak memperagakan “rorodaan” salah satu “kaulinan budak” (mainan anak) yang merupakan mainan khas anak pedesaan pada acara Pekan Promosi Taman Hutan Raya Juanda, Bandung, Sabtu (10/11).* RETNO HY/”PR”

BANDUNG, (PR).-
Disadari atau tidak, arus deras mainan anak produksi luar negeri secara perlahan menggeser permainan tradisional yang penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal dan benteng budaya. Sementara konsistensi pemerintah memberikan dukungan dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi masih setengah-setengah.

Demikian diungkapkan peneliti, pemerhati yang juga staf pengajar Desain dan Kebudayaan di Itenas Bandung, Mohamad Zaini Alif, di sela-sela lokakarya Kaulinan Barudak, di kawasan wisata Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, Dago Pakar, Bandung, Minggu (11/11)

“Dalam beberapa kali pertemuan dengan jajaran Disbudpar Jabar, saya telah paparkan mengenai konsep maupun program untuk melestarikan sekitar 120 mainan anak asli ti Sunda, dan bersedia untuk membantu. Tetapi hingga kini realisasinya tidak ada,” ujar pria yang kini membangun komunitas Hong dan Kampung Kolecer di kampung halamannya di Kec. Tanjungsiang Kab. Subang.

Asah kreativitas

Dikatakan Zaini, derasnya serbuan mainan anak produksi luar negeri, termasuk mainan murah dari Cina, membawa pengaruh sangat besar bagi daya pikir, karakter maupun sikap dan sifat seorang anak. Permainan anak saat ini banyak menciptakan emosional anak meningkat dan juga bersifat individualistik.

Berbeda dengan mainan anak tradisional, anak-anak dituntut kreatif sejak dalam proses pembuatannya yang harus berbaur dengan alam, karena bahan didapat dari lingkungan sekitar. Demikian pula saat memainkannya, selain dituntut kreatif juga harus memiliki strategi, kekuatan (tenaga), kebersamaan, kejujuran dan lainnya, yang berasal dari nilai-nilai kearifan lokal serta nilai-nilai tradisi yang merupakan benteng budaya.

Permainan anak tradisional tidak bisa dipandang hanya sebagai salah satu bentuk permainan semata. “Banyak nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal yang tertanam di sana. Permainan tradisi juga merupakan salah satu bentuk ketahanan budaya,” ujar Zaini.

Sebagai benteng ketahanan budaya, permainan anak (tradisional) masih cukup diminati, terutama oleh kelompok-kelompok orang yang masih ingin mengenang masa lalunya.

Zaini mengatakan, sejatinya permainan tradisi atau lebih dikenal dengan permainan rakyat merupakan sebuah kegiatan rekreatif yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara hubungan dan kenyamanan sosial.

Menurut dia, berdasarkan penelitian yang dilakukannya, permainan anak tradisional memiliki nilai pembelajaran bagi anak-anak, seperti nilai ekonomi hingga demokrasi. Permainan dakon atau congklak, misalnya, dimaknai sebagai permainan yang mendidik anak agar rajin menabung dan bersikap ekonomis. “Permainan ini menimbulkan hasrat anak untuk menemukan strategi mengumpulkan mata dakon, yang biasanya terbuat dari kulit kerang, sebanyak mungkin dalam wadah tabungan,” ujarnya.

Permainan benteng-bentengan dan gobak sodor, selain memiliki nilai keceriaan yang tinggi, permainan ini juga membantu anak berpikir strategis. Menolong temannya yang berada dalam cengkeraman lawan bermainnya dan juga membantu timnya memenangi pertandingan, tentu membutuhkan kerja sama, kekompakan, dan kecerdasan berpikir, tanpa mencederai aturan permainan yang telah disepakati bersama. Sanksi sosial siap diterapkan atas diri anak-anak yang berlaku tidak patut dalam permainan itu.

Kini, sedikitnya ada 120 permainan tradisional anak yang sudah diteliti dan dikoleksi. Zaini bersama 150 orang komunitas Hong selain melakukan kegiatan rutin memainkan permainan anak setiap minggunya, juga membuat mainan serta cindera mata untuk dijual dan hasilnya untuk mendanai kegiatan mereka.

“Kalau menunggu bantuan dari pemerintah, kapan kami akan memulai pelestarian mainan anak, karenanya kami memulai sendiri dengan membangun Kampung Kolecer dan mengisinya dengan aneka kegiatan,” ujar Zaini.

Berkenaan dengan rencana pembangunan museum mainan anak yang pernah dilontarkan dirinya maupun Taufik Udjo serta Kadisbupar Kota Bandung Drs. Askary, Zaini mengatakan, hal tersebut baru rencana di mulut. “Hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan dilaksanakan, padahal dari tingkat presiden, menteri, kadisbudpar sudah menyatakan siap,” ujar Zaini.

Sementara pada lokakarya yang diselenggarakan bersama Perum Perhutani Jabar di Tahura Juanda digelar sejumlah permainan. Semisal dodorongan, jajangkungan, tetembakan, wawayangan dan lainnya. (A-87)***

sumber :  http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=1206

Sekilas Jeruk Bali (citrus maxima)

Bentuk rupa yang besar dengan penampang kulit yang tebal berwarna kuning kehijauan serta isi dagingnya yang berwarna merah dan ada pula yang berwarna putih. Rasanya manis, asam terkadang ada juga yang pahit, kandungan airnya yang banyak, ternyata memiliki manfaat yang luar biasa. Manfaat dari Jeruk Bali tersebut adalah mampu mencegah kanker, menurunkan risiko penyakit jantung, melancarkan saluran pencernaan, menjaga kesehatan kulit, menurunkan kolesterol dan mencegah anemia. Kulit Jeruk Bali yang tebal biasa dibuat orang-orang untuk manisan, rasanya enak sekali dan manis. Adakah manfaat-manfaat lainnya dari Jeruk Bali tersebut?

Mainan Anak-Anak

Mainan anak-anak saat ini jauh lebih baik dan murah dibandingkan dengan mainan anak-anak jaman dulu. Beragam mainan anak-anak yang pada umumnya terbuat dari plastik mendominasi sebesar kurang lebih 80% dari total mainan anak-anak yang ada sekarang ini. Jika dinilai dari harganya, plastik jauh lebih murah dan dapat menekan harga barang mainan. Disamping itu plastik jauh lebih elastis dan tidak mudah pecah atau retak, tergantung dari penampang dan desain plastik itu sendiri dijadikan sebuah mainan. Terpikirkah oleh anda jika plastik-plastik tersebut sudah tidak terpakai lagi? Berapa banyak sampah plastik yang akan dihasilkan dunia tiap harinya? Mampukah semua itu didaur ulang, atau mudahnya saja kebanyakan orang tinggal membuangnya tanpa berfikir dampak kedepannya.

Mainan Ramah Lingkungan

Coba anda ingat-ingat kembali kemasa kecil, pernahkah anda membuat mainan sendiri? Pernahkah anda membuatnya dari bahan tumbuh-tumbuhan yang ramah lingkungan? Saya akan coba kembali menumbuhkan ingatan anda dalam membuat mainan anak-anak dari bahan kulit Jeruk Bali. Disamping manfaat diatas, kulit Jeruk Bali dapat dibuat juga dibuat sebuah mainan anak-anak yang ramah lingkungan, disamping itu dapat menumbuhkan sifat bijak terhadap anak dalam mempergunakan barang-barang yang disediakan oleh Bumi ini. Saya akan menerangkan secara singkat bagaimana membuat mainan tersebut:

1. Belilah sebuah Jeruk Bali, lihat dan perhatikan penampang Jeruk Bali tersebut sebelum mengupasnya.
2. Buatlah tanda dengan ujung pisau sebagai arah irisan, buat dari atas hingga bawah dan jadikan 1/4 bagian dari buah tersebut.
011.jpg
3. Mulailah dengan mengiris secara perlahan (gunakan ujung pisau) atur sehingga ujung pisau hanya mengiris bagian kulitnya saja dan tidak mengiris hingga bagian dalam.
4. Bukalah irisan tersebut sehingga didapat 1/4 bagian kulit buah tersebut.
021.jpg
5. Selanjutnya belahlah 1/4 bagian tersebut dengan arah memanjang menjadi 2 bagian yang sama luasnya.
6. Salah satu bagian (kita sebut badan), potong salah satu ujungnya sehingga terlihat tumpul dan berilah lubang seperti terlihat pada gambar.
03.jpg
7. Lalu kemudian buatlah potongan bagian yang lainnya untuk membuat rodanya menjadi 2 buah, lalu berilah lubang namun jangan sampai tembus ke permukaan dibaliknya.
8. Pada bagian badan berilah lubang pada sisi ketebalannya hingga menembus sisi lainnya (seperti terlihat pada gambar), lalu berilah potongan sedotan plastik sepanjang kedalaman lubang tersebut.
04.jpg
9. Sekarang kita sudah memiliki bagian badan dan 2 buah roda, buatlah poros dengan menggunakan tusuk sate yang terbuat dari bambu (usahakan penampangnya sebulat mungkin) lalu potong sepanjang kedalaman poros ditambah 2 kali ketebalan kulit jeruk tersebut.
10. Saatnya mulai perakitan, rakitlah terlebih dahulu poros bambu masukkan kedalam lubang yang terdapat dibagian badan, baru tancapkan roda pada ujung poros kiri dan kanan bambu tersebut.
11. Berilah jarak antara roda dengan badan agar roda dapat berputar bebas.
05.jpg
12. Akhirnya kita sampai pada bagian akhir dari pembuatan mainan yang ramah lingkungan, ikatkanlah benang pada bagian badan pada ujung tumpulnya yang telah diberi lubang sebelumnya (agar lubang tidak cepat aus tergesek benang, berilah sedotan plastik pada lubang tersebut sehingga benang tidak langsung kontak dengan bagian badan tersebut).
13. Mobil-mobilan mini ini siap untuk diberikan kepada buah hati anda.
06.jpg

Hal-hal yang harus diperhatikan:

  1. Hadirkan anak anda selama proses pembuatan mainan ini, karena yang terpenting dari mainan ini adalah proses pembuatannya sebagai bahan dasar pelajaran praktikum bagi sang anak.
  2. Jika anak anda banyak bertanya, berilah jawaban yang mudah dan masuk akal bagi sang anak.
  3. Hindari pisau dari sang anak, sebaiknya gunakan cutter sehingga apabila tidak dipergunakan bisa langsung diamankan kedlam saku anda dan tidak dijamah oleh sang anak.
  4. Ceritakanlah masa kecil anda (selama anda membuat mainan ini) kepada anak, agar mereka kelak bangga memiliki orang tua yang cerdik dan bijak.
  5. Ajak anak-anak tetangga atau teman anak anda jikalau bisa, maksudnya adalah untuk melatih sang anak bekerja dalam sebuah tim.
  6. Usahakan membuat modifikasi-modifikasi bentuk dari mainan ini, agar tradisi membuat mainan sendiri bagi sang anak berkembang dari masa ke masa. Contohnya anda bisa membuatnya menjadi 2 buah dan diberi tambatan sehingga bisa dikatakan seperti kereta atau truk gandeng, ceritakan maksud modifikasi tersebut kepada anak anda. Rangsanglah daya hayal mereka sehingga sang anak berani mengutarakan modifikasi yang ia inginkan, dan ini pertanda baik bagi anak anda.
  7. Luangkan waktu anda bersama anak anda dalam hal-hal yang bersifat merubah kebiasaan buruk pada anak anda, maksudnya adalah jadikan hal-hal seperti ini sebagai salah satu jadwal bermain sang anak (belajar sambil bermain).

Semua tergantung anda, proses mendidik anak dengan memperkenalkan tehnik sederhana merupakan awal rangsangan sang anak dalam menjamah tehnologi. Ini sifatnya tradisional namun dampaknya adalah sebuah proses mengenal tehnik manufaktur secara mini yang dapat diberikan kepada anak anda kelak didunia nyata.

sumber :  http://ichsany.wordpress.com/category/mainan-anak-anak/

Pletokan

Pletokan atau peletokan, dikenal juga dengan nama celetok, dan di daerah Sunda disebut dengan Bebeletokan (beubeuleutokan). Mainan ini seperti tembakan yang terbuat dari bambu dengan menggunakan bermacam-macam peluru. Ada yang menggunakan kertas koran basah yang dibuat menjadi bola-bola kecil. Ada yang menggunakan buah liar berukuran kecil, dan lain-lain.


BERMAIN adalah hal menyenangkan. Namun, bermain juga mengandung nilai-nilai untuk menghargai sebuah proses atau usaha.

Kawan Kampus pernah mendengar tentang kolecer, dan karinding? Jika kawan tinggal di wilayah etnis Sunda, bisa jadi pernah mendengar atau mungkin memainkannya. Nama-nama itu sebenarnya nama mainan yang dimainkan masyarakat Sunda.

Kolecer merupakan mainan anak berupa batangan bambu berbentuk seperti huruf “T”. Bagian horizontalnya akan berputar jika tertiup angin. Anak-anak memainkan mainan ini jika telah mengetahui angin mulai kencang. Siapa yang putarannya paling kencang, biasanya disebut paling bagus.

Karinding merupakan benda yang bisa mengeluarkan bunyi rendah. Mainan ini dibuat dari sembilu bambu atau pelepah dahan enau yang berbentuk persegi panjang. Bagian tengahnya diraut lantas dibuat lubang di bagian permukaannya.

Cara memainkannya dengan cara diletakkan di mulut dan dipukul salah satu bagian ujungnya. Bagian yang diraut dan berlubang itu akan mengeluarkan bunyi. Bunyi yang baik jika pemainnya bisa mengatur udara yang keluar dari rongga mulutnya.

Mainan ini biasanya dimainkan saatmengelilingi huma untuk mengusir hama padi sejenis hama gaang. Namun, pada remaja, bunyi karinding dipakai untuk menarik perhatian lawan jenis. Dan, pada saat sekarang karinding dipakai sebagai bagian alat musik dalam pertunjukan.

Nama-nama itu seperti tenggelam. Perkembangan teknologi dan informasi telah mengubah bentuk dan material mainan. Jika kita memerhatikan produk mainan di toko, isinya lebih banyak robot-robotan, mobil-mobilan, puzzle, dan piringan cakram video game.

Akan tetapi, di tangan Mohamad Zaini Alif (32), mainan-mainan rakyat Sunda itu direvitalisasi dan dikumpulkan. Staf pengajar Desain Produk Institut Teknologi Nasional (Itenas) ini telah mengumpulkan 120 jenis mainan rakyat Sunda, yang tersebar di bagian selatan Jawa Barat. Jebolan program pascasarjana, Jurusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2003 itu, mengaku belum sampai merambah ke daerah utara.

Usai menyelesaikan pendidikannya di ITB, ia menetapkan diri sebagai peneliti mainan dan permainan rakyat. Lantas lelaki dari Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini mendirikan Komunitas Hong di kampungnya. Komunitas ini mengkaji mainan dan permainan rakyat di wilayah Sunda.

Ditemui di kediamannya yang bergaya minimalis di Dago Pakar Utara No. 35, Kota Bandung, Zaini menjelaskan tentang mainan rakyat Sunda. Berikut wawancara Kampus dengan suami dari Mia Rosmiati ini, Minggu (22/7).

Bagaimana terbentuknya mainan dalam masyarakat Sunda?

Pola kehidupan masyarakat yang beragam mendorong terciptanya mainan dan permainan yang sesuai dengan alam dan lingkungan tempat tinggalnya. Karakter kehidupan orang Sunda adalah berladang atau huma. Orang yang pergi ke ladang terkadang sendirian sehingga mereka membuat benda-benda yang bisa menghibur dirinya sendiri.

Apa perbedaan antara mainan dan permainan?

Mainan dengan permainan memang berbeda. Mainan adalah benda yang dibuat untuk menyenangkan dirinya, sedangkan permainan adalah sebuah sistem aturan yang dilakukan berkelompok. Biasanya dalam permainan ada aturan kalah dan menang.

Sebagaiman karakter berladang sehingga membutuhkan sesuatu untuk menemaninya selama bekerja. Sementara itu karakter orang yang pergi ke sawah biasanya lebih berkelompok. Dari pertemuan-pertemuan orang di sawah itu lantas diciptakan permainan untuk menghibur diri.

Apakah ada ciri khusus mainan yang ada di wilayah Sunda?

Mainan yang ada di wilayah Sunda lebih dominan menghasilkan suara. Suara adalah media yanng menyenangkan dan bisa mengisi waktu di kala senggang. Misalnya, fungsi karinding yang bisa dipakai untuk mengusir hama sekaligus untuk menemani di waktu sepi.

Cara memainkannya bisa dipukul, ditiup, digoyangkan, dibanting, diputar, atau menggunakan media lain misalnya angin, air, atau udara. Contohnya, kolecer adalah mainan yang menggunakan media angin.

Ciri lainnya berupa peniruan dari benda, binatang, atau perkakas. Misalnya, kekerisan, dan gogolekan. Nama-nama mainan juga kadang diambil dari suara yang dihasilkan bentuk yang mereka buat. Misalnya, mendengar celetok, maka benda itu disebut bebeletokan. Lalu materialnya. Di masa silam, mainan menggunakan bahan yang dihasilkan alam. Misalnya, membuat bola dari pelepah pisang dan karinding dari sembilu bambu atau pelepah dahan enau.

Apakah ada perbedaan fungsi mainan rakyat dan mainan zaman sekarang?

Mainan merupakan media pola asuh anak. Fungsinya bisa untuk perkembangan motorik dan kreativitas. Namun, ada perbedaan antara fungsi bermain mainan rakyat dan mainan zaman sekarang.

Pada mainan rakyat, fungsi bermain bukan hanya saat mainan itu dimainkan. Akan tetapi, proses pembuatan juga bagian dari bermain. Di awal saya mengatakan, bahwa orang Sunda sering pergi sendiri ke ladang. Ia buat sendiri dengan bahan-bahan yang didapatkan di perjalanannya. Kebiasaan ini bermakna bahwa orang senantiasa mendahului proses ketimbang hasil sehingga ia akan menjadi pekerja keras di masa datang.

Orang di kampung adat tidak asal mengambil bambu. Mereka tahu, kapan waktu yang tepat untuk mendapatkan kualitas bambu yang bagus untuk bunyi. Mereka mengambilnya saat masuk masa hujan silantang, yakni musim kemarau tapi banyak suara gemuruh guntur seperi mau hujan. Masa ini terjadi lima tahun sekali. Ini mengajarkan orang untuk peka terhadap alamnya.

Pada zaman sekarang, fungsi bermain adalah memainkan saja. Tidak ada proses yang dilakukan si anak untuk menciptakan mainannya sendiri. Semuanya sudah disediakan dan bisa dibeli dengan harga tertentu.

Kang Zaini sudah sering memamerkan mainan rakyat ini. Lantas apakah mainan ini sudah disebut kuno?

Di tiap event pameran anak-anak TK dan SD tidak menyebut kuno. Malah menyebutnya sebagai mainan baru. Karena mereka tidak dikenalkan pada hal ini. Mungkin karena kita dulu pernah melihat dan memainkannya sehingga bisa menyebut kuno. Bisa disebut kuno kalau orang tuanya telanjur mengatakan benda ini kuno dibandingkan dengan mainan dari barat.

Kalau begitu andai makin banyak orang menyebut kuno, mainan ini akan menjadi artefak?

Bisa menjadi artefak karena alasan-alasan lain juga. Misalnya, sekarang anak ingin membuat kelom batok. akan tetapi, ternyata susah mencari batok kelapanya karena sudah menjadi bahan arang di pasar atau karena pohon kelapa sulit dicari di kota.

Sebenarnya orang tua dan pengajar di TK bisa memulai mengenalkan mainan itu dari bahan yang telah disediakan alam. Misalnya, memperkenalkan kepekaan rasa kepada anak-anak dengan media yang ada alam sekitar. Bahan yang halus dan kasar banyak tersedia sehingga tidak perlu beli barang mahal.

Mainan rakyat mungkin bisa menjadi artefak. Namun, poin untuk mengembangkan budaya bermain dan mainan seperti pada esensi bermain dalam mainan rakyat adalah penting. Poin pentingnya itu adalah mengajak untuk berproses bukan menyediakan hasil yang sudah ada. Jadi, bagaimana orang tua mengajarkan mainan itu tidak harus membeli atau menyadap dari bentuk mainan yang ada dari barat.

Omong-omong, target apa yang hendak Kang Zaini capai?

Masih ada mainan rakyat Sunda yang belum saya kumpulkan. Setelah terkumpul semua, saya memiliki target untuk mendirikan perkumpulan yang sama seperti Hong di tiap provinsi. Hal ini agar setiap provinsi memiliki mainan rakyat yang bisa ditonjolkan di negeri ini.***

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/072007/26/kampus/obrolan.htm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.