Ada makna pertemuan antara manusia dan Tuhan di antara mainan itu.
Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=317702&kat_id=460
Di suatu Subuh, bayangan rembulan masih terlihat saat seorang lelaki yang menginjak remaja, Mohamad Zaini Alif, berjalan kaki menuju sekolahnya di SMPN 1 Tanjungsiang, Kabupaten Subang. Napasnya sedikit terengah, karena ia harus menempuh perjalanan sejauh lima km atau 1,5 jam berjalan kaki. Namun, pemandangan pepohonan karet dan kluwak di kebun sepanjang perjalanan serta embun pagi membuatnya selalu segar dan tidak lelah.
Waktu yang ditunggunya adalah saat pulang sekolah. Ia bersama teman-temannya mencari biji pepohonan karet dan kluwak untuk dibuat kerkeran, mainan seperti kipas angin. Baling-balingnya terbuat dari bambu dengan penyangga dari biji karet, kluwak, atau batok kelapa. Bagi anak kampung seperti dirinya, mainan buatan sendiri adalah bagian indah dari hidup yang terbawa hingga dewasa.
Lelaki kelahiran Cibuluh, Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang, Jawa Barat ini memainkan berbagai jenis permainan di antaranya kolecer (sejenis kipas angin yang dipancang di sawah atau huma) dan karinding (alat tiup dari batang bambu yang disobek tengahnya) untuk mengusir binatang hama padi seperti serangga dan burung. Ia juga membuat wayang golek dari batang daun singkong yang mengering.
Kecintaan kepada mainan tradisional asli Sunda membawa pria yang kini berusia 32 tahun itu menempuh pendidikan di Desain Produk Institut Teknologi Nasional (Itenas) dan ITB untuk meraih gelar S1 dan S2. Sejak 1996 ia mulai melakukan penelitian tentang mainan tradisional. Tak mudah melakukan penelitian itu karena sumbernya sangat sedikit.
Lantaran penelitian permainan Sunda dan berniat untuk melestarikan, ia pun mendirikan komunitas Hong. Inilah komunitas yang merupakan pusat kajian mainan rakyat yang didirikan pada 2003. Komunitas yang bertekad melestarikan mainan dan permainan rakyat ini melakukan penelitian mainan sejak 1996.
Tak hanya menjadi tempat berkumpul, komunitas ini juga menjadi wadah pencinta, peneliti, dan produsen mainan anak. ‘Hong’ sendiri adalah kata yang diteriakkan anak-anak Sunda saat bertemu teman. ”Hong juga berarti pertemuan dengan Yang Maha Kuasa,” ungkap lelaki kelahiran Subang, 9 Mei 1975, itu.
Komunitas ini terdiri dari 150 anggota yang berasal dari masyarakat dari berbagai usia mulai dari 6-90 tahun. Kelompok anak adalah pelaku dalam permainan, sedangkan untuk anggota dewasa adalah nara sumber dan pembuat mainan. Komunitas Hong terus menggali dan merekonstruksi mainan rakyat baik itu dari tradisi lisan berupa naskah-naskah kuno. Mereka juga berusaha memperkenalkan mainan rakyat dengan tujuan menanamkan sebuah pola pendidikan masyarakat buhun masyarakat yang memegang adat istiadat Parahyangan (Sunda) agar seorang anak mengenal diri, lingkungannya, dan Tuhan.
Rekonstruksi ulang
Dari hasil penelitian Zaini, komunitas Hong lantas merekonstruksi ulang 168 jenis mainan yang berasal dari daerah Jabar Selatan dan daerah tengah Jabar. Komunitas ini mempunyai cita-cita untuk meneliti di seluruh provinsi atau setidaknya Jabar daerah utara. ”Saya memprediksi ada sekitar 250 jenis mainan tradisional Jabar,” ungkap dosen desain dan kebudayaan Itenas ini.
Dalam kesehariannya, komunitas Hong mempunyai agenda kegiatan rutin ataupun kegiatan besar. ”Kami sering bermain bersama sehabis pulang sekolah di ladang, sungai, dan jenis permainannya pun berbeda tergantung musim,” ungkap Zaini. Kegiatan besarnya adalah pembuatan kampung ‘kolecer’ (workshop), tempat melatih mainan dan permainan rakyat yang ada di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kec Tanjungsiang, Subang.
Rupanya, kegiatan itu tak hanya berakhir pada sebuah kegiatan yang menyenangkan saja. Mainan-mainan itu pun dapat diolah menjadi cendera mata yang mendatangkan uang. Uang itu kemudian digunakan untuk kelanjutan sekolah anak-anak di desanya. ”Sesudah main, biasanya mereka kumpulkan lalu menjualnya. Lumayan bisa buat tambahan uang sekolah dan memberi pada orangtua,” kata Zaini.
Lewat divisi dana dan usaha di kampung ‘kolecer’, uang tersebut disalurkan dalam bentuk beasiswa untuk anak-anak. Asep adalah salah satu anggota komunitas ini yang sudah ‘menikmati’ beasiswa itu. Berkat uang itu, dia dapat melanjutkan sekolahnya. Selain itu, ”Saya juga senang karena bisa belajar, bermain, dan menghasilkan uang sekaligus.”ren
Belajar Hidup Lewat Mainan
Dulu, mainan sudah jadi hal yang amat penting sehingga ada ahlinya. ”Ketika itu mainan bukan hal sepele atau sekadar main-main. Justru dari mainan orang belajar bersosialisasi, mengatasi kesepian, mengatur keseimbangan otak, bekerja sama, serta mengenal lingkungan,” ujar pendiri komunitas Hong, Muhammad Zaini Alif.
Seperti di daerah Jabar Selatan, orangtua memangku anaknya untuk bermain surser dengan menggerakkan tangan anak bergantian ke lutut kanan dan kiri orangtuanya untuk melatih koordinasi otak kiri dan kanan serta mendekatkan hubungan keduanya.
Anak-anak bermain jajangkung (egrang) untuk melatih keseimbangan; mengusir sepi dengan memainkan keprak (batang bambu yang dibelah salah satu ujungnya menjadi lengkungan;, hatong (batang bambu yang disobek dan dilubangi), atau celempung (bambu yang dilubangi dan dipukul).
Bagi Zaini, inilah perbedaan besar antara permainan masa kini dan mainan tradisional. Tak cuma melatih otak, permainan tradisional juga melatih rasa. Hal itulah yang tidak ada dalam permainan modern. ”Permainan sekarang banyak yang dibuat untuk melatih kreativitas. Namun, permainan tradisional diciptakan untuk melatih psikomotorik, pedagogis, psikologis, dan banyak hal yang ada dalam diri manusia,” cetus dia. ren
( )






